August 18, 2011

Sedekah Makanan Buka Puasa, Tradisi Ramadhan Warga Mekah

Tradisi Ramadhan
Setiap tahun warga Mekah menyediakan makanan berbuka puasa untuk jamaah di sekitar Masjid Haram. Ini tradisi turun-temurun di kalangan warga Mekah. Haydar Amoun, 56 tahun penduduk Mekah, mengatakan setiap bulan Ramadhan ia mengumpulkan anak-anak dan cucunya untuk memberi makanan berbuka puasa kepada orang miskin dan jamaah Masjid Haram.

Dia membawa mereka beberapa jam sebelum berbuka puasa sehingga mereka dapat mengatur makanan tersebut di lingkungan miskin. Makanan untuk berbuka puasa yang ia sediakan terdiri dari pisang, jeruk, biskuit, kurma, dan air.

"Kami memiliki anggaran untuk menyediakan makanan-makanan ini. Kita mulai mengumpulkan uang untuk itu beberapa bulan sebelum Ramadhan.. Kami tidak mengharapkan apa-apa selain pahala dari Allah,” katanya kepada Associated Press.

“Kami menargetkan wilayah-wilayah miskin dan mendistribusikan makanan di antara orang miskin dan yang membutuhkan. Sisanya yang kita distribusikan kepada jamaah dalam perjalanan mereka ke Masjidil Haram."

Penduduk Mekah lainnya, Hosni Labban, mengatakan dia berpartisipasi setiap tahun dengan mendistribusikan air dingin kepada para jemaah di samping susu dan kurma. Anggaran Labban terbatas sehingga ia mempersiapkan 50 kantong berisi air dingin dan susu.

"Saya menargetkan pengendara di jalan yang tidak bisa melakukan buka puasa di rumah. Pengemudi sering berkendara dengan kecepatan tinggi agar mereka bisa mencapai rumah pada waktunya, tetapi dengan mendistribusikan kantong makanan untuk mereka, mereka akan memperlambat dan mengemudi dengan aman karena mereka memiliki sesuatu untuk berbuka puasa dengan saya selalu memberitahu mereka untuk mengemudi dengan aman ketika saya mendistribusikan kantong-kantong makanan tersebut.. "

Menurut Abdul Latif Sharaf, 45 tahun, penduduk Makkah, menyediakan makanan berbuka puasa untuk jamaah Masjid Haram adalah pekerjaan mulia bagi umat Islam. Dia mewarisi tradisi ini dari ayahnya dan mengajarkan tradisi ini kepada anaknya yang berusia enam tahun.

"Setiap hari saya mengambil sejumlah besar kurma dan air Zamzam dingin dan pergi ke Masjidil Haram. Saya menyalurkan kurma dan air dengan anak saya kepada para jemaah Umrah di dalam area Tawaf segera setelah panggilan untuk shalat Maghrib mulai. Saya bangga melihat bahwa anak saya menikmati itu dan saya pastikan bahwa semua makanan yang saya bawa telah didistribusikan sebelum saya berbuka saya." (Mel/Sudan News Agency /ddhongkong.org).*

August 13, 2011

Sekitar Zakat Fitrah

Oleh Prof. Dr. KH. Miftah Faridl

Dalam melaksanakan rangkaian ibadah Ramadhan, sebagai penyempurnanya kita wajib membayar zakat fitrah. Ada beberapa hal yang penting untuk dimantapkan supaya zakat fitrah kita betul-betul sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.

Mengenai jumlah barangkali tak ada masalah, yaitu seharga beras yang nasinya sehari-hari kita makan, tiga liter lebih atau sekitar 2,5 kg. Untuk kehati-hatian, silakan lebihkan sedikit.

Waktu pelaksanaan zakat fitrah sampai kepada mustahik itu tanggal 1 Syawal. Sedangkan 1 Syawal itu mulai Maghrib sampai pelaksanaan Sholat Id. Kalau zakat fitrah diberikan setelah pelaksanaan Id, maka tidak sah dan dinilai sebagai sedekah biasa.

Kita dibolehkan untuk menitipkan zakat fitrah kepada lembaga yang kita percayai, untuk kemudian oleh lembaga itu disampaikan kepada yang berhak menerimanya pada saat yang tepat. Penitipannya bisa dilakukan pada tiga, dua, atau satu hari sebelum hari raya.

Zakat fitrah diberikan hanya untuk fakir miskin dari kalangan kaum muslim. Targetnya jangan sampai pada hari raya masih ada orang lapar dan yang minta-minta.

Yang juga perlu menjadi catatan kita, muzaki dalam zakat fitrah tidak boleh dalam waktu yang sama menjadi mustahik.
Yang wajib mengeluarkan zakat fitrah adalah yang mempunyai kelebihan dari keperluan untuk dirinya dan keluarganya. Kalau memang kita mempunyai kemampuan untuk zakat fitrah, kita tidak boleh menjadi mustahik.

Orang yang di bawah tanggungan kita, seperti anak, adik, atau siapa saja yang sehari-hari menjadi tanggungan kita, termasuk pembantu yang serumah dengan kita, tidak boleh menerima zakat fitrah dari kita.

Zakat fitrah diberikan kepada orang yang bukan tanggungan kita sehari-hari. Sebab, pemberian kepada orang yang di bawah tanggungan kita, itu nafkah namanya.

Seseorang tidak boleh memberikan zakat fitrah kepada ayah dan ibu kandung. Sebab, ayah dan ibu kandung itu tidak boleh miskin kalau anaknya kaya. Kalau anaknya kaya, maka ayah dan ibunya harus ikut kaya, sekurang-kurangnya cukup. Karena termasuk tidak bermoral kalau seorang anak kaya, sedangkan ayah dan ibunya menjadi mustahiq zakat sebagai fakir miskin.

Ayah dan ibu kandung itu harus diberi nafkah, bukan diberi zakat, dan nafkah itu pahalanya lebih besar daripada zakat, namun nafkah harus dilakukan secara terus-menerus, setiap hari.

Namun sebaliknya, seorang ayah yang kaya, sedangkan anaknya yang sudah berkeluarga hidup miskin, maka boleh sang ayah memberikan zakat fitrah kepada anaknya yang sudah di luar tanggungan itu. (Alhikmah)

August 10, 2011

Tayangan Ramadhan di TV Minim Nilai Religius

Tayangan Ramadhan di TV Minim Nilai Religius
Menteri Agama Suryadharma Ali mengeritik tayangan televisi sebelum berbuka dan saat sahur. Menurutnya, sebagian tayangan komedi nyaris miskin syiar Islam. Padahal, sudah sewajarnya momentum bulan suci Ramadhan diisi dengan tayangan yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat.

“Ini enggak, syiarnya hanya kebagian di akhir, itu pun sedikit sekali,” katanya di Jakarta, Selasa (8/8). Menurutnya, tidak masalah tayangan komedi dibuat karena memang masyarakat  membutuhkan hiburan. Yang perlu diingat, ungkap dia, jadikan tayangan komedi sebagai medium syiar Islam.

"Dengan demikian, umat dapat memperoleh dua manfaat sekaligus, yakni manfaat jasmani dan rohani," jelasnya.

Suryadharma pun mengimbau kepada seluruh pihak untuk menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang kondusif untuk beribadah. Untuk itu, perlu didukung dengan tayangan berkualitas dan sesuai kondisi.

Ke depan, Menteri mengatakan, Puslitbang Kementerian Agama tengah menggodok solusi menyangkut tayangan televisi di bulan Ramadhan yang akan disampaikan kepada pihak terkait. Solusi ini diharapkan akan menguntungkan semua pihak.

Minim

Ulama Sumatara Barat Prof Syamsul Bahri Khatib menilai, tayangan televisi saat Ramadhan, terutama program sahur dan berbuka, minim nilai religius.

“Tayangan TV saat sahur dan berbuka lebih banyak menampilkan program komedi yang minim nilai religius dan jauh dari nilai-nilai Ramadhan,” katanya, Senin (8/8).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar ini menambahkan, tayangan waktu sahur dan berbuka, terutama acara komedi, hanya menawarkan hiburan terhadap otak, tetapi tidak memberikan pencerahan bagi jiwa dan mengajak masyarakat untuk lebih dekat dengan Allah.

“Hal itu juga bertentangan dengan nilai-nilai Ramadhan di mana seharusnya lebih banyak ditayangkan program yang membuat penonton semakin dekat kepada Allah,” paparnya.

Dalam menampilkan program Ramadhan, seharusnya stasiun televisi jangan hanya mengejar rating semata. Program yang ditampilkan harus memberikan nilai-nilai baik serta pencerahan bagi masyarakat dan menjadikan mereka semakin menghayati nilai-nilai Ramadhan.

Dikatakannya, fenomena yang terjadi saat ini, penyelenggara TV berusaha mengemas acara yang menarik agar banyak ditonton masyarakat. Jika acara yang ditayangkan mendapat rating tinggi, akan menunjang keberlangsungan stasiun televisi tersebut.

“Namun, jangan sampai karena mengejar rating, nilai-nilai dan pesan Ramadhan yang hendak disampaikan menjadi bias,” kata dosen IAIN Imam Bonjol Padang ini.

Menurut Syamsul, perlu adanya program yang memberikan pencerahan bagi kaum Muslimin yang sarat nilai-nilai spiritual, seperti ceramah, tadarus, dan program yang menambah wawasan keislaman.

Kepada pengelola TV, ia mengimbau agar lebih banyak menampilkan tayangan bernilai edukatif dan religius sehingga dapat menghibur akal dan jiwa serta memberikan pencerahan.

Sayamsul juga berpesan kepada masyarakat agar lebih selektif dalam memilih acara televisi saat Ramadhan. “Tontonlah acara yang memiliki nilai kebaikan dan meningkatkan ilmu serta pemahaman terhadap agama.” (Republika/Antara).*

August 2, 2011

Tarawih, Qiyamul Lail Ramadhan

Tarawih (jama’ dari tarwihah) berasal dari kata roha, artinya istirahat. Shalat ini disebut tarawih karena dilakukan setelah istirahat sejenak seusai shalat Isya dan sunnah ba’da Isya dua rakaat.

Shalat tarawih bisa juga disebut shalat Qiyamullail, yaitu shalat yang bertujuan menghidupkan malam bulan Ramadhan. Tarawih adalah sahalat tahajud yang diawalkan waktunya. Ini kemudahan dari Allah SWT karena waktu tahajud di bulan-bulan lain, yakni tengah malam atau sebelum shubuh, pada bulan Ramadhan digunakan untuk makan sahur.

Jadi, bisa dikatakan, shalat tarawih merupakan shalat tahajjud yang dilaksanakan pada bulan-bulan biasa. Dengan kata lain, shalat tahajjud yang dilaksanakan dalam bulan Ramadhan itulah yang akhirnya menjelma menjadi shalat tarawih sekarang ini.

Namun, tidak ada larangan untuk tetap shalat tahajud karena shalat tahajud pun termasuk shalat malam (qiyamul lail).

Berjamaah atau Sendiri

Rasulullah Saw melaksanakan secara berjamaah di masjid hingga hari ketiga puasa. Pada malam keempat, Rasulullah tidak muncul untuk memimpin shalat tarawih berjamaah sebab khawatir kalau-kalau shalat tarawih itu akan dianggap sebagai shalat fardhu.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya agar menjalankan shalat tarawih di rumahnya masing-masing (HR Bukhari).

Pada zaman Rasulullah hingga zaman permulaan Khalifah Umar bin Khatab, shalat tarawih dilakukan sendiri-sendiri di rumah masing-masing (HR Bukhari).

Lalu Khalifah Umar melakukan “inovasi” dengan melaksanakannya secara berjamaah di masjid setelah melaksanakan shalat Isya.

Umar bin Khattab sendiri mengatakan perbuatannya itu adalah bid’ah, yakni dalam pengertian harfiyah, dan tidak ditentang oleh sahabat lain juga para ulama hingga kini. Kesimpulannya, shalat tarawih boleh dengan berjamaah, boleh juga sendirian.

Jumlah Rakaat

Jumlah rakaat  dalam shalat tarawih boleh 8, 20, bahkan 36, 38, dan 40 rakaat plus shalat witir 3 rakaat, bergantung pada kesanggupan dan tidak usah dipertentangkan.

Namun, dalil paling masyhur (populer) adalah Rasulullah Saw shalat tarawih 8 rakaat plus 3 rakaat shalat witir (shalat penutup), sebagaimana hadist riwayat A’isyah (HR. Bukhari dan Muslim). Teknisnya, disebutkan dalam hadits riwayat Muslim, bervariasi: bisa 4-4-3, 2-2-2-2-2-1, ada juga riwayat Ibnu Hibban: 8 rakaat sekaligus + witir.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan perbedaan riwayat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan pada saat itu: ada yang mengatakan 13 rakaat, ada yang mengatakan 21 rakaat, ada yang mengatakan 23 rakaat.

Khusus rakaat shalat tarawih, ada juga yang mengatakan 36 rakaat plus 3 witir, ini diriwayatkan pada masa Umar bin Abdul Aziz. Ada juga yang meriwayatkan 41 rakaat. Bahkan ada yang meriwayatkan 40 rakaat plus 7 rakaat witir. Riwayat dari imam Malik beliau melaksanakan 36 rakaat plus 3 rakaat witir.

Kebanyakan masyarakat Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat atau 11 rakaat, termasuk witir. Kedua cara ini sama-sama mempunyai landasan dalil yang kuat.

”Barangsiapa yang melakukan qiyamullail (tarawih) dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka dihapuskan dosa-dosanya yang lalu.” (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam. (www.ramadhan.risalahislam.com).*