December 14, 2014

Zakat untuk Pembangunan Masjid menurut Al-Qaradhawi

HUKUM MEMPERGUNAKAN ZAKAT UNTUK MEMBANGUN MASJID 

Oleh Dr. Yusuf Qardhawi 

Zakat untuk Pembangunan Masjid menurut Al-Qaradhawi
PERTANYAAN 
Saya seorang muslim yang diberi banyak karunia oleh Allah yang saya tidak mampu mensyukurinya dengan sepenuhnya meski apa pun yang saya lakukan, karena apa yang saya lakukan itu sendiri juga merupakan nikmat dari Allah yang harus disyukuri. 

 Diantara karunia yang Allah berikan kepada saya adalah kekayaan yang - alhamdulillah - cukup banyak, dan saya mengeluarkan zakatnya setiap tahun. 

Saya juga menerapkan pendapat Ustadz untuk menzakati penghasilan gedung-gedung yang saya peroleh setiap bulan tanpa menunggu perputaran satu tahun, dengan besar zakat seperdua puluh dari total penghasilan. 

Pertanyaan yang saya lontarkan kepada Ustadz sekarang adalah mengenai penggunaan zakat untuk pembangunan masjid yang digunakan untuk mengerjakan shalat didalamnya, mengadakan majelis taklim, dan mengumpulkan kaum muslim untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala. 

 Kami - yang berdomisili di negara Teluk - sering didatangi saudara-saudara dari negara-negara miskin yang ada di Asia dan Afrika yang mengeluhkan berbagai penderitaan, sedikitnya penghasilan, banyaknya jumlah penduduk, seringnya ditimpa bencana alam, disamping tekanan dari kelompok-kelompok yang memusuhi Islam, baik dari negara-negara Barat maupun Timur, dari golongan salib, komunis, dan lainnya. 

Bolehkah kami memberikan zakat kepada saudara-saudara kami kaum muslim yang miskin yang tertekan dalam kehidupan beragama dan dunia mereka, ataukah tidak boleh? 

Fatwa yang pernah diberikan para mufti berbeda-beda mengenai masalah ini, ada yang melarang dan ada yang membolehkan. Dan kami tidak merasa puas melainkan dengan fatwa Ustadz. Semoga Allah meluruskan langkah Ustadz, memuliakan Ustadz, dan menjadikan yang lain mulia karena Ustadz. 

JAWABAN 
 Semoga Allah memberikan berkah kepada saudara penanya yang terhormat mengenai apa yang telah dikaruniakan-Nya kepadanya. Mudah-mudahan Allah menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya atasnya dan menolongnya untuk selalu ingat kepada-Nya dan bersyukur kepada-Nya serta memperbaiki ibadah kepada-Nya. 

Saya merasa gembira bahwa dia telah mengeluarkan zakat dari penghasilan gedung-gedungnya sesuai dengan pendapat yang saya pandang kuat, tanpa menunggu berputarnya masa satu tahun. 

Mudah-mudahan saja dia menginfakkan seluruh hasilnya atau sebagiannya. Adapun menyalurkan zakat untuk pembangunan masjid sehingga dapat digunakan untuk mengagungkan nama Allah, berdzikir kepada-Nya, menegakkan syiar-syiar-Nya, menunaikan shalat, serta menyampaikan pelajaran-pelajaran dan nasihat-nasihat, maka hal ini termasuk yang diperselisihkan para ulama dahulu maupun sekarang. 

Apakah yang demikian itu dapat dianggap sebagai "fi sabilillah" sehingga termasuk salah satu dari delapan sasaran zakat sebagaimana yang dinashkan di dalam Al-Qur'anul Karim dalam surat at-Taubah: 

 "Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (at-Taubah: 60) 

 Ataukah kata "sabilillah itu artinya terbatas pada "jihad" saja sebagaimana yang dipahami oleh jumhur? 

 Saya telah menjelaskan masalah ini secara terinci di dalam kitab saya Fiqh az-Zakah, dan di sini tidaklah saya uraikan lagi masalah tersebut. 

 Dalam buku itu saya memperkuat pendapat jumhur ulama, dengan memperluas pengertian "jihad" (perjuangan) yang meliputi perjuangan bersenjata (inilah yang lebih cepat ditangkap oleh pikiran), jihad ideologi (pemikiran), jihad tarbawi (pendidikan), jihad da'wi (dakwah), jihad dini (perjuangan agama), dan lain-lainnya. 

Kesemuanya untuk memelihara eksistensi Islam dan menjaga serta melindungi kepribadian Islam dari serangan musuh yang hendak mencabut Islam dari akar-akarnya, baik serangan itu berasal dari salibisme, misionarisme, marxisme, komunisme, atau dari Free Masonry dan zionisme, maupun dari antek dan agen-agen mereka yang berupa gerakan-gerakan sempalan Islam semacam Bahaiyah, Qadianiyah, dan Bathiniyah (Kebatinan), serta kaum sekuler yang terus-menerus menyerukan sekularisasi di dunia Arab dan dunia Islam. 

 Berdasarkan hal ini maka saya katakan bahwa negara-negara kaya yang pemerintahnya dan kementerian wakafnya mampu mendirikan masjid-masjid yang diperlukan oleh umat, seperti negara-negara Teluk, maka tidak seyogianya zakat disana digunakan untuk membangun masjid. 

Sebab negara-negara seperti ini sudah tidak memerlukan zakat untuk hal ini, selain itu masih ada sasaran-sasaran lain yang disepakati pendistribusiannya yang tidak ada penyandang dananya baik dari uang zakat maupun selain zakat. 

 Membangun sebuah masjid di kawasan Teluk biayanya cukup digunakan untuk membangun sepuluh atau lebih masjid di negara-negara muslim yang miskin yang padat penduduknya, sehingga satu masjid saja dapat menampung puluhan ribu orang. 

Dari sini saya merasa mantap memperbolehkan menggunakan zakat untuk membangun masjid di negara-negara miskin yang sedang menghadapi serangan kristenisasi, komunisme, zionisme, Qadianiyah, Bathiniyah, dan lain-lainnya. 

Bahkan kadang-kadang mendistribusikan zakat untuk keperluan ini - dalam kondisi seperti ini - lebih utama daripada didistribusikan untuk yang lain. Alasan saya memperbolehkan hal ini ada dua macam: Pertama, mereka adalah kaum yang fakir, yang harus dicukupi kebutuhan pokoknya sebagai manusia sehingga dapat hidup layak dan terhormat sebagai layaknya manusia muslim. 

Sedangkan masjid itu merupakan kebutuhan asasi bagi jamaah muslimah. Apabila mereka tidak memiliki dana untuk mendirikan masjid, baik dana dari pemerintah maupun dari sumbangan pribadi atau dari para dermawan, maka tidak ada larangan di negara tersebut untuk mendirikan masjid dengan menggunakan uang zakat. 

Bahkan masjid itu wajib didirikan dengannya sehingga tidak ada kaum muslim yang hidup tanpa mempunyai masjid. Sebagaimana setiap orang muslim membutuhkan makan dan minum untuk kelangsungan kehidupan jasmaninya, maka jamaah muslimah juga membutuhkan masjid untuk menjaga kelangsungan kehidupan rohani dan iman mereka. 

 Karena itu, program pertama yang dilaksanakan Nabi saw. setelah hijrah ke Madinah ialah mendirikan Masjid Nabawi yang mulia yang menjadi pusat kegiatan Islam pada zaman itu. 

 Kedua, masjid di negara-negara yang sedang menghadapi bahaya perang ideologi (ghazwul fikri) atau yang berada dibawah pengaruhnya, maka masjid tersebut bukanlah semata-mata tempat ibadah, melainkan juga sekaligus sebagai markas perjuangan dan benteng untuk membela keluhuran Islam dan melindungi syakhshiyah islamiyah. 

 Adapun dalil yang lebih mendekati hal ini ialah peranan masjid dalam membangkitkan harakah umat Islam di Palestina yang diistilahkan dengan intifadhah (menurut bahasa berarti mengguncang/ menggoyang; Penj.) yang pada awal kehadirannya dikenal dengan sebutan "Intifadhah al masajid." 

Kemudian oleh media informasi diubah menjadi "Intifadhah al-Hijarah" batu-batu karena takut dihubungkan dengan Islam yang penyebutannya itu dapat menggetarkan bangsa Yahudi dan orang-orang yang ada di belakangnya. 

Kesimpulan
Menyalurkan zakat untuk pembangunan masjid dalam kondisi seperti itu termasuk infak zakat fi sabilillah demi menjunjung tinggi kalimat-Nya serta membela agama dan umat-Nya. Dan setiap infak harta untuk semua kegiatan demi menjunjung tinggi kalimat (agama) Allah tergolong fi sabilillah (di jalan Allah). Wa billahit taufiq. 

Sumber: Fatwa-fatwa Kontemporer Dr. Yusuf Qardhawi Gema Insani Press 

Hukum Dana Zakat untuk Mambangun Masjid

Hukum Dana Zakat untuk Mambangun Masjid
Bolehkah dana zakat dipergunakan untuk mendirikan masjid atau memperbaikinya?

Syaikh Mahmoud Syaltout dalam buku Fatwa-Fatwa (1973) menjelaskan, masjid yang dikehendaki untuk didirikan atau diperbaiki, jika merupakan satu-satunya yang ada di suatu tempat, atau ada yang lain tetapi sangat sempit dan tidak dapat menampung penduduk di daerah itu, sehingga dirasa perlunya didirikan masjid yang baru, maka dalam keadaan seperti itu adalah sah menurut agama membelanjakan uang zakat untuk mendirikan atau memperbaiki masjid dimaksud.

Pembiayaan masjid termasuk dalam pembelanjaan zakat sebagaimana dinyatakan dalam surat At-Taubah ayat 60 dengan nama “sabilillah” yaitu:  

“Bahwasanya shadaqah (zakat) itu diperuntukkan bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil (petugas zakat), orang-orang yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk sabilillah, dan ibnu sabil.”

Hal ini atas dasar bahwa perkataaan ‘sabilillah’ itu maksudnya ialah ke pentingan umum yang manfaatnya bagi sekalian kaum muslimin dan tidak terbatas pada satu golongan tertentu saja. 

Jadi ia meliputi soal-soal yang bersangkutan dengan: masjid, rumah sakit, gedung-gedung pendidikan, industri-industri besi/baja, industri mesiu dan sebagainya, yang manfaatnya kembali kepada masyarakat umum.

Imam al-Razi mengatakan dalam Tafsirnya sebagai berikut:

‘Ketahuilah bahwa menurut dhahirnya arti perkataan wa fi sabilillah dalam ayat tersebut tidak hanya terbatas pada pejuang dan sebagainya saja. Oleh karena itu Imam al-Qaffal mensitir pendapat para Fuqaha dalam Tafsirnya, bahwa mereka membolehkan pembelanjaan harta zakat dalam segala segi kebaikan, misalnya: mengenai pengurusan jenazah, mendirikan benteng-benteng/kubu-kubu pertahanan, memakmurkan masjid dan sebagainya. Sebab sabilillah tersebut meliputi itu semua.”

“Itulah pendapat yang kami pilih dan kami kukuhi serta kami fatwakan, dengan catatan seperti keterangan kami di atas yang khusus mengenai masjid, yakni masjid yang dimaksud itu merupakan kebutuhan pokok. Jika tidak demikian, maka pembelanjaan selain pada masjid itulah yang harus didahulukan.”

Fatwa Syaikh Mahmoud Syaltout tentang substansi “sabilillah” dalam konteks masa kini sejalan dengan pendapat ulama Al-Azhar dan tokoh pembaharu Sayid Muhammad Rasyid Ridha (wafat 1935) yang banyak dirujuk oleh kalangan ulama di berbagai negeri muslim sampai sekarang. 

Pengertian “fisabilillah” sebagai asnaf penerima zakat tidak terbatas pada kepentingan perjuangan yang bersifat fisik semata dalam rangka pertahanan negara dan agama, tetapi sesuai yang dipahami dari Al Quranul Karim dalam kaitan dengan pembagian zakat kepada delapan asnaf bahwa kalimat “sabilillah” ditampilkan “secara umum guna kepentingan umum pula”. 

Fatwa Syaikh Mahmoud Syaltout di atas telah cukup untuk menjawab keraguan sebagian kalangan mengenai boleh tidaknya zakat untuk pembangunan masjid. (http://pusat.baznas.go.id).*

Referensi Lainnya: 
HUKUM MEMPERGUNAKAN ZAKAT UNTUK MEMBANGUN MASJID

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq Griya Cempaka Arum (GCA) Gedebage Bandung. Dengan infak dan sedekah Anda, masjid yang berada dekat Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini akan segera terwujud dan semoga "menyaingi" kemeriahan suasana Stadion GBLA nanyinya. Klik DONASI

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

December 13, 2014

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi ladang amal Anda. Lokasi masjid di Kompleks Griya Cempaka Arum (GCA) Gedebage Bandung, dekat Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

Diabaikan pengembang selama bertahun-tahun, kerangka masjid lalu "diambil-alih" oleh warga dengan dana swadaya dan "seadanya".

Warga yang membutuhkan tempat ibadah segera, terpaksa membangun "masjid dalam masjid" dengan memasang "kotak" dari triplek untuk melindungi jamaah dari angin dan hujan.

Tertarik bantu dana pembangunannya? Klik "DONASI"

Ini dia penampakannya:

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung


Foto-foto: romelteafoto.blogspot.com

December 9, 2014

2000-an Masjid di Kota Bandung Salah Kiblat

2000-an Masjid di Kota Bandung Salah Kiblat
Di Kota Bandung ada sekitar 4.000 masjid. Lebih dari 50 persennya atau sekitar 2.0000-an masjid tidak tepat mengarahkan arah kiblatnya.

Badan Hisab dan Rukyat Kota Bandung menyebutkan arah kiblat disepakati berada di 25 derajat 10 menit dari titik barat hampir barat laut.

"Jumlah masjid di Bandung ada empat ribu. Lebih 50 persen arah kiblatnya tidak tepat. Ya, banyak yang melenceng, memang benar ke arah barat, tapi umumnya kurang ke sebelah kanan," kata Kepala Badan Hisab dan Rukyat Kota Bandung, Maftuh Kholil, seperti dikutip detik.com.

Maftuh menjelaskan, pihaknya untuk tahap awal bakal kalibrasi arah kiblat di enam masjid yang tersebar di enam wilayah Kota Bandung. Selain itu, menggencarkan sosialisasi kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) tingkat kecamatan dan masjid yang kapasitasnya besar.

"Targetnya dalam setahun semua masjid selesai (sesuai arah kiblat). Selain itu, dimohon para ketua DKM harus ada permohonan kepada kami untuk kalibrasi. Gratis atau tanpa dipungut biaya, kami sudah siap menerjunkan petugas untuk mengkalibrasi arah kiblat. Jadi bukan bangunan (masjid) yang digeser, sajadahnya yang geser," tutur Maftuh.

Selain masjid, kata Maftuh, pihaknya juga merencanakan pemasangan tugu kiblat di seluruh tempat pemakaman umum (TPU). Sebab, sambung Maftuh, wajah jenazah umat Islam sewaktu dimakamkan lazimnya mengarah ke kiblat.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan pada 2015 mendatang diharapkan seluruh masjid sudah sesuai arah kiblat yang akurat.

Emil sapaan Ridwan, menyebut adanya pergeseran untuk arah kiblat yang tepat memang bakal membuat tidak nyaman antara posisi mimbar dan sajadah.

"Nanti sajadahnya miring-miring, tapi itu resiko. Daripada mengikuti kondisi arah kiblat yang enggak akurat lagi. Jadi arah sajadah saja digeserkan," kata Emil.*

December 8, 2014

4.000 Masjid di Bandung Segera Miliki Sertifikat Arah Kiblat

4.000 Masjid di Bandung Segera Miliki Sertifikat Arah Kiblat
Sekitar 4.000 masjid di Kota Bandung segera memiliki sertifikat arah kiblat setelah melalui proses kalibrasi oleh Badan Hisab dan Rukyat (BHR).

"Tahun 2015 proses kalibrasi selesai, jadi nanti sudah tidak akan dibingungkan lagi tentang arah kiblat," kata Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat Sosialisasi Pengukuran Arah Kiblat oleh BHR Kota Bandung di Gedung Al-Ukhuwah, Bandung, Senin (8/12).

Ia menuturkan, Kota Bandung merupakan daerah yang memiliki masjid terbanyak di Indonesia sehingga perlu didukung dengan sertifikat arah kiblat.

"Kami menyambut baik, apalagi ini adalah sebuah upaya yang menyangkut hajat hidup orang banyak," ujarnya seperti dikutip Antara.

Pihak Badan Hisab dan Rukyat terlebih dahulu melakukan kalibrasi ulang yang ditargetkan selesai seluruhnya 2015, untuk selanjutnya 2016 diberikan sertifikat itu.

Selain masjid, ltempat pemakaman juga akan dipasang tanda seperti tugu yang fungsinya menunjukan arah kiblat.

Khusus pemakaman luas, Ridwan berharap petunjuknya dapat ditambah berupa kayu kecil sehingga masyarakat merasa mudah mengetahui arah kiblat.

"Masyarakat membutuhkan tanda arah kiblat di tempat pemakaman yang selama ini belum ada," katanya.*

December 7, 2014

Hukum Shalat Tidak Mengerti Bacaannya

Hukum Shalat Tidak Mengerti Bacaannya
Bagaimana hukumnya orang shalat, tapi tidak mengerti arti dan makna bacaan shalat? 085269605XXX

JAWAB: Hukumnya tetap sah secara fiqih, selama bacaannya benar dan memenuhi syarat dan rukun shalat.

Jadi, ketidakmengertian bacaan tidak ada kaitannya dengan sah-tidaknya shalat, karena tidak termasuk syarat sah dan rukun shalat.

Namun, jika kita shalat tidak mengerti makna bacaannya, alangkah ruginya kita, karena shalat kita tidak akan khusyu dan kita tidak ”berdialog” dengan Allah SWT.

Lagi pula, sebagian besar bacaan shalat itu berisi doa. Mungkinkan kita meminta sesuatu (berdoa) kepada Allah tanpa paham apa yang kita minta? 

Karenanya, mari kita pelajari dan pahami bacaan shalat, dari takbir hingga salam, agar shalat kita khusyu, berpengaruh pada perilaku, dan kita merasakan kenikmatan spiritual ”berdialog” dengan Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawabi. (Tim Asatidz DKM Abu Bakar Ash-Shiddiq).*

November 3, 2014

Sebutan, Tingkatan, dan Klasifikasi Masjid di Indonesia

Masjid Istiqlal Jakarta: Masjid Negara Indonesia.*
Perbedaan Masjid Raya, Masjid Agung, Masjid Besar, dan Masjid Jami.

MASJID adalah sebutan umum untuk rumah ibadah umat Islam. Masjid yang berukuran kecil biasa disebut Mushola. 

Perbedaan masjid dan mushola biasanya dari segi luas/ukuran bangunan dan kapasitas jamaah. Masjid biasanya berukuran besar dan menampung sekitar 100 lebih jamaah. Mushola berukuran kecil dan hanya menampung jumlah jamaah 50 orang ke bawah.

Selain itu, masjid biasanya digunakan shalat Jumat. Mushola tidak digunakan sebagai tempat shalat Jumat karena ukurannya yang kecil

Tingkatan/Klasifikasi Masjid di Indonesia
Di era Orde Baru, pihak Departemen Agama (kini Kemenag) mengeluarkan ketentuan untuk memberikan sebutan yang berbeda kepada masjid.

Menurut ketentuan itu dan menurut klasifikasi yang ditetapkan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI), untuk masjid jami utama di tingkat kecamatan diberi sebutan Masjid Besar. Untuk masjid jami utama di tingkat kabupaten/kota diberi sebutan Masjid Agung. Untuk mesjid jami utama di tingkat provinsi diberi sebutan Masjid Raya. Untuk tingkat desa/kelurahan disebut Masjid Jami.
  1. Masjid Raya - Tingkat Provinsi
  2. Masjid Agung - Tingkat Kabupaten/Kota
  3. Masjid Besar - Tingkat Kecamatan
  4. Masjid Jami - Tingkat Desa/Kelurahan
Berikut ini strata masjid yang telah ditetapkan menjadi 7 klasifikasi yakni :
  1. Masjid Negara disebut sebagai Masjid Negara dan Istiqlal ditetapkan sebagai satu-satunya masjid negara.
  2. Masjid Akbar dengan status Masjid Nasional.
  3. Masjid Raya dengan status Masjid Provinsi.
  4. Masjid Agung dengan status masjid Kabupaten/Kota.
  5. Masjid Besar dengan status Masjid Kecamatan.
  6. Masjid Jami’ dengan status sebagai Masjid Kelurahan
  7. Masjid biasa -- untuk yang tidak masuk tingkatan 1-6.

Masjid di Indonesia juga diklasifikasikan dengan memberikan tipe bagi masing-masing strata masjid tersebut: 
  1. Tipe A untuk Masjid Negara
  2. Tipe B untuk Masjid Akbar
  3. Tipe C untuk Masjid Raya
  4. Tipe D untuk Masjid Agung
  5. Tipe E untuk Masjid Besar
  6. Tipe F untuk Masjid Jami’
  7. Tipe G untuk Masjid RW.

October 26, 2014

10 Bangunan Masjid Paling Indah di Dunia

10 Bangunan Masjid Paling Indah di Dunia
Masjid merupakan tempat ibadah bagi umat muslim. Tak hanya sebagai tempat ibadah, kadang masjid juga sebagai tujuan wisata di beberapa negara.

Keindahan serta kemegahan menjadi salah satu daya tarik bagi sebuah masjid.

Namun bila di kembalikan ke fungsinya, kemegahan dan keindahan suatu mesjid tak dapat dijadikan ukuran ideal untuk sebuah masjid.

Berikut ini 10 mesjid terindah yang ada di Muka Bumi. 

1. Masjid Raya Baiturrahman, Aceh, Indonesia 

Masjid Raya Baiturrahman, Aceh, Indonesia


2. Masjid Faisal, Islamabad, Pakistan 

Masjid Faisal, Islamabad, Pakistan


3. Masjid Taj-UI, India 

Masjid Taj-UI, India


4. Great Mosque Of Xi’an, provinsi Shaanxi, Cina 

Great Mosque Of Xi’an, provinsi Shaanxi, Cina


5. Masjid Badshashi, Lahore, Pakistan 

Masjid Badshashi, Lahore, Pakistan


6. Masjid Jamek, Kuala Lumpur, Malaysia 

Masjid Jamek, Kuala Lumpur, Malaysia


7. Masjid Sultan Ahmed, Istanbul, Turki 

Masjid Sultan Ahmed, Istanbul, Turki


8. Masjid An-Nabawi, Madinah, Arab Saudi 

Masjid An-Nabawi, Madinah, Arab Saudi


9. Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi 

Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi


10. Masjid Muhammad Ali Pasha, Kairo 

Masjid Muhammad Ali Pasha, Kairo


Karakteristik Orang yang Memakmurkan Masjid

Karakteristik Orang yang Memakmurkan Masjid
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah: 18).

Awal ayat ini dimulai dengan kata innama, yang dalam bahasa Arab disebut ‘adatul hasr (alat untuk menyempitkan). Ini berarti bahwa orang-orang yang tidak memiliki sifat sebagaimana yang disebutkan pada ayat ini, maka dia tidak layak untuk ikut memakmurkan masjid.

Jadi kaum Muslimin yang mendapatkan legitimasi dari Allah sebagai orang yang berhak untuk memakmurkan masjid adalah yang mempunyai sifat sebagaimana yang disebutkan pada ayat ini, yaitu:

Pertama, man aamana billaahi wal yaumil aakhiri (orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian). 

Sifat pertama yang disebutkan sebagai orang yang berhak untuk disebut memakmurkan masjid, dikaitkan dengan masalah aqidah, yaitu orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir. Tentang keimanan kepada Allah dan keimanan kepada hari akhir ini merupakan bukti yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain seperti binatang. Binatang hanya mengenal apa-apa yang sifatnya lahiriyah dan keduniawian saja, dan tidak pernah melihat sisi ukhrawi.

Oleh karena itu pantas saja kalau ada binatang yang saling berhubungan dengan yang lainnya tanpa mengindahkan norma, karena memang demikianlah mereka. Akan tetapi kalau ada manusia yang perilakunya seperti binatang, maka derajatnya sama dengan binatang, bahkan lebih rendah lagi. Oleh karena itu Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf: 179).

Antara keimanan kepada Allah dengan keimanan kepada hari akhir, sering diredaksikan Al-Qur’an secara berurutan. Kenapa? Karena keimanan kepada kedua hal ini bisa membedakan antara orang yang benar-benar beriman dengan orang-orang yang keimanannya hanyalah dusta. Orang yang keimanannya benar tidak akan menghalakan segala cara dalam berusaha karena ia yakin bahwa Allah Swt. Maha Mengetahui, dan Dia akan memberikan balasan atas seluruh perbuatan manusia pada hari akhir kelak.

Ketika seorang yang keimanannya benar mempunyai suatu obsesi yang berkaitan dengan masalah duniawi, ia akan bertanya dalam hatinya, “Apakah ini akan bisa saya pertanggungjawabkan di akherat kelak?” 

Ketika seorang Mukmin menjadai seorang dosen, ia tidak akan mempunyai prinsip “Bagi saya, yang penting adalah bahwa apa yang saya sampaikan menarik dan membuat saya tenar”, akan tetapi sebelum ia melakukan apa pun, ia akan bertanya dalam hatinya apakah yang akan disampaikannya bisa ia pertanggungjawabkan di akherat kelak atau tidak. 

Jadi seorang Mukmin sejati dimensi yang dipergunakannya adalah dimensi ukhrawi, sebelum ia menggunakan dimendi duniawi.

Kedua, wa aqaamash shalaata (serta tetap mendirikan shalat). 

Sifat kedua yang harus dimiliki oleh orang yang berhak untuk memakmurkan masjid adalah yang bisa tetap mendirikan shalat. Oleh karena itu jangan sampai ada kasus dimana seorang pengurus masjid dipilih dari orang yang sangat jarang shalat di masjid. 

Dia datang ke masjid kalau ada peringatan hari besar Islam saja, seperti peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj atau Nuzulul Qur’an, dan setelah peringatan tersebut selesai, maka menghilang lagi. Orang seperti ini tidak patut untuk menjadi pengurus masjid karena ia bukan aktivis masjid. Dan dalam memilih orang untuk menjadi pengurus masjid, sebaiknya kita jangan menghalalkan segala cara.

Kadang-kadang ada sebagian orang yang menunjuk seseorang untuk menjadi ketua pengurus masjid bukan karean dia seorang yang aktif untuk selalu meramaikan masjid dengan shalat berjama’ah dan kegiatan lainnya, akan tetapi dipilah hanya karean dia orang berpangkat atau orang yang terpandang di masyarakat. 

Kita jangan sampai berbuat seperti ini, karena kalau demikian berarti kita telah menghalalkan segala cara dalam memilih pengurus masjid. Dan cara seperti ini jelas telah menyalahi aturan Allah, karena pada ayat ini Allah Swt. mensyaratkan orang yang berhak memakmurkan masjid adalah orang yang senantiasa menegakan shalat.

Penegasan Allah ini sekaligus memberikan pemahaman kepada kita agar ijtihad kita jangan sampai bertentangan dengan nash yang terdapat dalam Al-Qur’anul Karim. Dalam melaksanakan dakwah, jangan sampai bertentangan dengan fiqhul ahkam. oleh karena itu kebijakan-kebijakan yang kita ambil dalam dakwah jangan sampai bertentangan dengan ketentuan Allah Swt., baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun yang terdapat dalam sunnah Rasulullah Saw. 

Bahkan pada ayat ini Allah mengatakan masalah ini dengan kata “innama” (hanyalah). Jadi hanya orang yang mempunyai sifat yang disebut dalam ayat ini sajalah yang berhak untuk memakmurkan masjid.

Dalam Ushul Fiqh ada kaidah yang berbunyi, “Laa ijtihaada fii mauriibin naash”(tidak ada ijtihad ketika bertentangan dengan nash). Artinya, kalau sudah ada ketentuan yang jelas dalam Islam, maka tidak dibenarkan kita untuk berijtihad. Misalnya, sudah jelas nash menerangkan bahwa jumlah rakaat dalam shalat Shubuh hanya dua rakaat. 

Ketika ada orang yang beralasan bahwa agar manfaat riyadhi (olah raganya) lebih terasa kemudian ia mengerjakan shalat Shubuh empat rakaat, maka tidak sah sehingga tidak akan diterima oleh Allah Swt.

Contoh lain, tidak dibenarkan ijtihad yang berbunyi, “Karena negara kita sedang dilanda krisis, maka kita tidak perlu membayar zakat, tetapi cukup dengan membayat pajak saja, sehingga kas negara cepat terisi sehingga krisis bisa cepat berlalu”. Ijtihad seperti ini sangat dilarang, karena nash-nya telah jelas.

Ketiga, sifat yang harus dimiliki oleh orang yang memakmurkan masjid adalahshalaata wa aataz zakaata (dan yang menunaikan zakat). 

Memperhatikan masalah zakat ini sangat penting, karena ini menyangkut upaya untuk senantiasa membersihkan diri dari berbagai macam kekotoran hati, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah,

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS At-Taubah: 103).

Keempat, walam yakhsya illallaah (dan tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah). 

Penggalan ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa seorang aktivis masjid adalah orang yang kehidupannya penuh dengan ‘izzah. Kenapa? Karena ia tidak takut kepada siapa pun kecuali hanya kepada Allah Swt. 

Seorang aktivis masjid bukanlah orang yang senang merengek-rengek dan meminta-minta, akan tetapi orang yang mempunyai ‘izzah rabbaniyyah, yang mempunyai gengsi rabbani, yang dipenuhi dengan berbagai kemuliaan karena senantiasa berafiliasi dengan aturan-aturan Allah Swt. Oleh karena itu tidak pantas seorang aktivis masjid menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya.*

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Baru Mulai Dibangun

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Baru Mulai Dibangun

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq Griya Cempaka Arum (GCA). Jalan Abu Bakar Shidiq, Griya Cempaka Arum, Kelurahan Rancanumpang Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Dekat Stadion Gelora Bandung Lautan Api [GBLA]). 

Masjid ini "ditelantarkan" pihak pengembang selama puluhan tahun hingga pembangunannya diserahkan kepada warga GCA pada 2013 lalu. Baru memulai pembangunan. Kini masih "berbentuk rangka". 

Warga GCA sudah menggunakannya mulai Ramadhan 1435 lalu dalam keadaan "darurat" yaitu dengan membangun "masjid dalam masjid" berupa alas dan dinding darurat dari kayu. 

Ayo, donasi!

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ (سورة التوبة: 18)

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah: 18).

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ (رواه البخاري، رقم 450، ومسلم، رقم 533، من حديث عثمان رضي الله عنه)

“Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan baginya semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ ، أوْ أَصْغَرَ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ 

“Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil. Maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah dari dari Jabir bin Abdullah r.a.).*

Fungsi Masjid

Fungsi Masjid
MASJID tidak hanya tempat shalat. Banyak fungsi masjid lainnya sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw.

Fungsi Keagamaan Masjid
Ibadah
Semua muslim yang telah baligh atau dewasa harus menunaikan salat lima kali sehari. Walaupun beberapa masjid hanya dibuka pada hari Jumat, tapi masjid yang lainnya menjadi tempat salat sehari-hari.

Pada hari Jumat, semua muslim laki-laki yang telah dewasa diharuskan pergi ke masjid untuk menunaikan salat ke masjid, berdasarkan Surah Al-Jumu’ah ayat 9:

“ Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat Jum'at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” —Surah Al-Jumu’ah:9

Pusat Kegiatan Masyarakat
Banyak pemimpin Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, berlomba-lomba untuk membangun masjid. Seperti kota Mekkah danMadinah yang berdiri di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kota Karbala juga dibangun di dekat makam Husain bin Ali. Kota Isfahan,Iran dikenal dengan Masjid Imam-nya yang menjadi pusat kegiatan masyarakat.

Pada akhir abad ke-17, Syah Abbas I dari dinasti Safawi di Iran mengubah kota Isfahan menjadi salah satu kota terbagus di dunia dengan membangun Masjid Syah dan Masjid Syaikh Lutfallah di pusat kota. Ini menjadikan kota Isfahan memiliki lapangan pusat kota yang terbesar di dunia. Lapangan ini berfungsi sebagai pasar bahkan tempat olahraga.

Masjid di daerah Amerika Serikat dibangun dengan sangat sering. Masjid biasa digunakan sebagai tempat perkumpulan umat Islam. Biasanya perkembangan jumlah masjid di daerah pinggiran kota, lebih besar dibanding di daerah kota. Masjid dibangun agak jauh dari pusat kota.

Fungsi Pendidikan
Fungsi utama masjid yang lainnya adalah sebagai tempat pendidikan. Beberapa masjid, terutama masjid yang didanai oleh pemerintah, biasanya menyediakan tempat belajar baik ilmu keislaman maupun ilmu umum. Sekolah ini memiliki tingkatan dari dasar sampai menengah, walaupun ada beberapa sekolah yang menyediakan tingkat tinggi.

Beberapa masjid biasanya menyediakan pendidikan paruh waktu, biasanya setelah subuh, maupun pada sore hari. Pendidikan di masjid ditujukan untuk segala usia, dan mencakup seluruh pelajaran, mulai dari keislaman sampai sains. Selain itu, tujuan adanya pendidikan di masjid adalah untuk mendekatkan generasi muda kepada masjid.

Pelajaran membaca Qur'an dan bahasa Arab sering sekali dijadikan pelajaran di beberapa negara berpenduduk Muslim di daerah luar Arab, termasuk Indonesia. Kelas-kelas untuk mualaf, atau orang yang baru masuk Islam juga disediakan di masjid-masjid di Eropa dan Amerika Serikat, dimana perkembangan agama Islam melaju dengan sangat pesat.

Beberapa masjid juga menyediakan pengajaran tentang hukum Islam secara mendalam. Madrasah, walaupun letaknya agak berpisah dari masjid, tapi tersedia bagi umat Islam untuk mempelajari ilmu keislaman.

Kegiatan dan Pengumpulan Dana
Masjid juga menjadi tempat kegiatan untuk mengumpulkan dana. Masjid juga sering mengadakan bazar, dimana umat Islam dapat membeli alat-alat ibadah maupun buku-buku Islam.

Masjid juga menjadi tempat untuk akad nikah, seperti tempat ibadah agama lainnya. (Wikipedia).*

Arti & Sejarah Masjid

Arti & Sejarah Masjid
Masjid atau mesjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan mesjid berukuran kecil juga disebutmusholla, langgar atau surau. 

Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan - kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. 

Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Etimologi
Masjid berarti tempat sujud (beribadah). Akar kata dari masjid adalah sajada dimana sajada berarti sujud atau tunduk. 

Kata masjid sendiri berakar dari bahasa Aram. Kata masgid (m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke 5 Sebelum Masehi. Kata masgid (m-s-g-d) ini berarti "tiang suci" atau "tempat sembahan".[1]

Kata masjid dalam bahasa Inggris disebut mosque. Kata mosque ini berasal dari kata mezquita[1] dalam bahasa Spanyol. Dan kata mosque kemudian menjadi populer dan dipakai dalam bahasa Inggris secara luas.
Sejarah Masjid
Menara-menara, serta kubah masjid yang besar, seakan menjadi saksi betapa jayanya Islam pada kurun abad pertengahan. Masjid telah melalui serangkaian tahun-tahun terpanjang di sejarah hingga sekarang. Mulai dari Perang Salib sampai Perang Teluk. 

Selama lebih dari 1000 tahun pula, arsitektur Masjid perlahan-lahan mulai menyesuaikan bangunan masjid dengan arsitektur modern.
Masjid pertama[sunting | sunting sumber]

Ketika Nabi Muhammad saw tiba di Madinah, beliau memutuskan untuk membangun sebuah masjid, yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Nabawi, yang berarti Masjid Nabi. Masjid Nabawi terletak di pusat Madinah. Masjid Nabawi dibangun di sebuah lapangan yang luas. 

Di Masjid Nabawi, juga terdapat mimbar yang sering dipakai oleh Nabi Muhammad saw. Masjid Nabawi menjadi jantung kota Madinah saat itu. Masjid ini digunakan untuk kegiatan politik, perencanaan kota, menentukan strategi militer, dan untuk mengadakan perjanjian. Bahkan, di area sekitar masjid digunakan sebagai tempat tinggal sementara oleh orang-orang fakir miskin.

Saat ini, Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsa adalah tiga masjid tersuci di dunia. (Wikipedia).*