December 14, 2014

Zakat untuk Pembangunan Masjid menurut Al-Qaradhawi

HUKUM MEMPERGUNAKAN ZAKAT UNTUK MEMBANGUN MASJID 

Oleh Dr. Yusuf Qardhawi 

Zakat untuk Pembangunan Masjid menurut Al-Qaradhawi
PERTANYAAN 
Saya seorang muslim yang diberi banyak karunia oleh Allah yang saya tidak mampu mensyukurinya dengan sepenuhnya meski apa pun yang saya lakukan, karena apa yang saya lakukan itu sendiri juga merupakan nikmat dari Allah yang harus disyukuri. 

 Diantara karunia yang Allah berikan kepada saya adalah kekayaan yang - alhamdulillah - cukup banyak, dan saya mengeluarkan zakatnya setiap tahun. 

Saya juga menerapkan pendapat Ustadz untuk menzakati penghasilan gedung-gedung yang saya peroleh setiap bulan tanpa menunggu perputaran satu tahun, dengan besar zakat seperdua puluh dari total penghasilan. 

Pertanyaan yang saya lontarkan kepada Ustadz sekarang adalah mengenai penggunaan zakat untuk pembangunan masjid yang digunakan untuk mengerjakan shalat didalamnya, mengadakan majelis taklim, dan mengumpulkan kaum muslim untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala. 

 Kami - yang berdomisili di negara Teluk - sering didatangi saudara-saudara dari negara-negara miskin yang ada di Asia dan Afrika yang mengeluhkan berbagai penderitaan, sedikitnya penghasilan, banyaknya jumlah penduduk, seringnya ditimpa bencana alam, disamping tekanan dari kelompok-kelompok yang memusuhi Islam, baik dari negara-negara Barat maupun Timur, dari golongan salib, komunis, dan lainnya. 

Bolehkah kami memberikan zakat kepada saudara-saudara kami kaum muslim yang miskin yang tertekan dalam kehidupan beragama dan dunia mereka, ataukah tidak boleh? 

Fatwa yang pernah diberikan para mufti berbeda-beda mengenai masalah ini, ada yang melarang dan ada yang membolehkan. Dan kami tidak merasa puas melainkan dengan fatwa Ustadz. Semoga Allah meluruskan langkah Ustadz, memuliakan Ustadz, dan menjadikan yang lain mulia karena Ustadz. 

JAWABAN 
 Semoga Allah memberikan berkah kepada saudara penanya yang terhormat mengenai apa yang telah dikaruniakan-Nya kepadanya. Mudah-mudahan Allah menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya atasnya dan menolongnya untuk selalu ingat kepada-Nya dan bersyukur kepada-Nya serta memperbaiki ibadah kepada-Nya. 

Saya merasa gembira bahwa dia telah mengeluarkan zakat dari penghasilan gedung-gedungnya sesuai dengan pendapat yang saya pandang kuat, tanpa menunggu berputarnya masa satu tahun. 

Mudah-mudahan saja dia menginfakkan seluruh hasilnya atau sebagiannya. Adapun menyalurkan zakat untuk pembangunan masjid sehingga dapat digunakan untuk mengagungkan nama Allah, berdzikir kepada-Nya, menegakkan syiar-syiar-Nya, menunaikan shalat, serta menyampaikan pelajaran-pelajaran dan nasihat-nasihat, maka hal ini termasuk yang diperselisihkan para ulama dahulu maupun sekarang. 

Apakah yang demikian itu dapat dianggap sebagai "fi sabilillah" sehingga termasuk salah satu dari delapan sasaran zakat sebagaimana yang dinashkan di dalam Al-Qur'anul Karim dalam surat at-Taubah: 

 "Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (at-Taubah: 60) 

 Ataukah kata "sabilillah itu artinya terbatas pada "jihad" saja sebagaimana yang dipahami oleh jumhur? 

 Saya telah menjelaskan masalah ini secara terinci di dalam kitab saya Fiqh az-Zakah, dan di sini tidaklah saya uraikan lagi masalah tersebut. 

 Dalam buku itu saya memperkuat pendapat jumhur ulama, dengan memperluas pengertian "jihad" (perjuangan) yang meliputi perjuangan bersenjata (inilah yang lebih cepat ditangkap oleh pikiran), jihad ideologi (pemikiran), jihad tarbawi (pendidikan), jihad da'wi (dakwah), jihad dini (perjuangan agama), dan lain-lainnya. 

Kesemuanya untuk memelihara eksistensi Islam dan menjaga serta melindungi kepribadian Islam dari serangan musuh yang hendak mencabut Islam dari akar-akarnya, baik serangan itu berasal dari salibisme, misionarisme, marxisme, komunisme, atau dari Free Masonry dan zionisme, maupun dari antek dan agen-agen mereka yang berupa gerakan-gerakan sempalan Islam semacam Bahaiyah, Qadianiyah, dan Bathiniyah (Kebatinan), serta kaum sekuler yang terus-menerus menyerukan sekularisasi di dunia Arab dan dunia Islam. 

 Berdasarkan hal ini maka saya katakan bahwa negara-negara kaya yang pemerintahnya dan kementerian wakafnya mampu mendirikan masjid-masjid yang diperlukan oleh umat, seperti negara-negara Teluk, maka tidak seyogianya zakat disana digunakan untuk membangun masjid. 

Sebab negara-negara seperti ini sudah tidak memerlukan zakat untuk hal ini, selain itu masih ada sasaran-sasaran lain yang disepakati pendistribusiannya yang tidak ada penyandang dananya baik dari uang zakat maupun selain zakat. 

 Membangun sebuah masjid di kawasan Teluk biayanya cukup digunakan untuk membangun sepuluh atau lebih masjid di negara-negara muslim yang miskin yang padat penduduknya, sehingga satu masjid saja dapat menampung puluhan ribu orang. 

Dari sini saya merasa mantap memperbolehkan menggunakan zakat untuk membangun masjid di negara-negara miskin yang sedang menghadapi serangan kristenisasi, komunisme, zionisme, Qadianiyah, Bathiniyah, dan lain-lainnya. 

Bahkan kadang-kadang mendistribusikan zakat untuk keperluan ini - dalam kondisi seperti ini - lebih utama daripada didistribusikan untuk yang lain. Alasan saya memperbolehkan hal ini ada dua macam: Pertama, mereka adalah kaum yang fakir, yang harus dicukupi kebutuhan pokoknya sebagai manusia sehingga dapat hidup layak dan terhormat sebagai layaknya manusia muslim. 

Sedangkan masjid itu merupakan kebutuhan asasi bagi jamaah muslimah. Apabila mereka tidak memiliki dana untuk mendirikan masjid, baik dana dari pemerintah maupun dari sumbangan pribadi atau dari para dermawan, maka tidak ada larangan di negara tersebut untuk mendirikan masjid dengan menggunakan uang zakat. 

Bahkan masjid itu wajib didirikan dengannya sehingga tidak ada kaum muslim yang hidup tanpa mempunyai masjid. Sebagaimana setiap orang muslim membutuhkan makan dan minum untuk kelangsungan kehidupan jasmaninya, maka jamaah muslimah juga membutuhkan masjid untuk menjaga kelangsungan kehidupan rohani dan iman mereka. 

 Karena itu, program pertama yang dilaksanakan Nabi saw. setelah hijrah ke Madinah ialah mendirikan Masjid Nabawi yang mulia yang menjadi pusat kegiatan Islam pada zaman itu. 

 Kedua, masjid di negara-negara yang sedang menghadapi bahaya perang ideologi (ghazwul fikri) atau yang berada dibawah pengaruhnya, maka masjid tersebut bukanlah semata-mata tempat ibadah, melainkan juga sekaligus sebagai markas perjuangan dan benteng untuk membela keluhuran Islam dan melindungi syakhshiyah islamiyah. 

 Adapun dalil yang lebih mendekati hal ini ialah peranan masjid dalam membangkitkan harakah umat Islam di Palestina yang diistilahkan dengan intifadhah (menurut bahasa berarti mengguncang/ menggoyang; Penj.) yang pada awal kehadirannya dikenal dengan sebutan "Intifadhah al masajid." 

Kemudian oleh media informasi diubah menjadi "Intifadhah al-Hijarah" batu-batu karena takut dihubungkan dengan Islam yang penyebutannya itu dapat menggetarkan bangsa Yahudi dan orang-orang yang ada di belakangnya. 

Kesimpulan
Menyalurkan zakat untuk pembangunan masjid dalam kondisi seperti itu termasuk infak zakat fi sabilillah demi menjunjung tinggi kalimat-Nya serta membela agama dan umat-Nya. Dan setiap infak harta untuk semua kegiatan demi menjunjung tinggi kalimat (agama) Allah tergolong fi sabilillah (di jalan Allah). Wa billahit taufiq. 

Sumber: Fatwa-fatwa Kontemporer Dr. Yusuf Qardhawi Gema Insani Press 

Hukum Dana Zakat untuk Mambangun Masjid

Hukum Dana Zakat untuk Mambangun Masjid
Bolehkah dana zakat dipergunakan untuk mendirikan masjid atau memperbaikinya?

Syaikh Mahmoud Syaltout dalam buku Fatwa-Fatwa (1973) menjelaskan, masjid yang dikehendaki untuk didirikan atau diperbaiki, jika merupakan satu-satunya yang ada di suatu tempat, atau ada yang lain tetapi sangat sempit dan tidak dapat menampung penduduk di daerah itu, sehingga dirasa perlunya didirikan masjid yang baru, maka dalam keadaan seperti itu adalah sah menurut agama membelanjakan uang zakat untuk mendirikan atau memperbaiki masjid dimaksud.

Pembiayaan masjid termasuk dalam pembelanjaan zakat sebagaimana dinyatakan dalam surat At-Taubah ayat 60 dengan nama “sabilillah” yaitu:  

“Bahwasanya shadaqah (zakat) itu diperuntukkan bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil (petugas zakat), orang-orang yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk sabilillah, dan ibnu sabil.”

Hal ini atas dasar bahwa perkataaan ‘sabilillah’ itu maksudnya ialah ke pentingan umum yang manfaatnya bagi sekalian kaum muslimin dan tidak terbatas pada satu golongan tertentu saja. 

Jadi ia meliputi soal-soal yang bersangkutan dengan: masjid, rumah sakit, gedung-gedung pendidikan, industri-industri besi/baja, industri mesiu dan sebagainya, yang manfaatnya kembali kepada masyarakat umum.

Imam al-Razi mengatakan dalam Tafsirnya sebagai berikut:

‘Ketahuilah bahwa menurut dhahirnya arti perkataan wa fi sabilillah dalam ayat tersebut tidak hanya terbatas pada pejuang dan sebagainya saja. Oleh karena itu Imam al-Qaffal mensitir pendapat para Fuqaha dalam Tafsirnya, bahwa mereka membolehkan pembelanjaan harta zakat dalam segala segi kebaikan, misalnya: mengenai pengurusan jenazah, mendirikan benteng-benteng/kubu-kubu pertahanan, memakmurkan masjid dan sebagainya. Sebab sabilillah tersebut meliputi itu semua.”

“Itulah pendapat yang kami pilih dan kami kukuhi serta kami fatwakan, dengan catatan seperti keterangan kami di atas yang khusus mengenai masjid, yakni masjid yang dimaksud itu merupakan kebutuhan pokok. Jika tidak demikian, maka pembelanjaan selain pada masjid itulah yang harus didahulukan.”

Fatwa Syaikh Mahmoud Syaltout tentang substansi “sabilillah” dalam konteks masa kini sejalan dengan pendapat ulama Al-Azhar dan tokoh pembaharu Sayid Muhammad Rasyid Ridha (wafat 1935) yang banyak dirujuk oleh kalangan ulama di berbagai negeri muslim sampai sekarang. 

Pengertian “fisabilillah” sebagai asnaf penerima zakat tidak terbatas pada kepentingan perjuangan yang bersifat fisik semata dalam rangka pertahanan negara dan agama, tetapi sesuai yang dipahami dari Al Quranul Karim dalam kaitan dengan pembagian zakat kepada delapan asnaf bahwa kalimat “sabilillah” ditampilkan “secara umum guna kepentingan umum pula”. 

Fatwa Syaikh Mahmoud Syaltout di atas telah cukup untuk menjawab keraguan sebagian kalangan mengenai boleh tidaknya zakat untuk pembangunan masjid. (http://pusat.baznas.go.id).*

Referensi Lainnya: 
HUKUM MEMPERGUNAKAN ZAKAT UNTUK MEMBANGUN MASJID

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq Griya Cempaka Arum (GCA) Gedebage Bandung. Dengan infak dan sedekah Anda, masjid yang berada dekat Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini akan segera terwujud dan semoga "menyaingi" kemeriahan suasana Stadion GBLA nanyinya. Klik DONASI

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

December 13, 2014

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi ladang amal Anda. Lokasi masjid di Kompleks Griya Cempaka Arum (GCA) Gedebage Bandung, dekat Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

Diabaikan pengembang selama bertahun-tahun, kerangka masjid lalu "diambil-alih" oleh warga dengan dana swadaya dan "seadanya".

Warga yang membutuhkan tempat ibadah segera, terpaksa membangun "masjid dalam masjid" dengan memasang "kotak" dari triplek untuk melindungi jamaah dari angin dan hujan.

Tertarik bantu dana pembangunannya? Klik "DONASI"

Ini dia penampakannya:

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung

Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Bandung


Foto-foto: romelteafoto.blogspot.com

December 9, 2014

2000-an Masjid di Kota Bandung Salah Kiblat

2000-an Masjid di Kota Bandung Salah Kiblat
Di Kota Bandung ada sekitar 4.000 masjid. Lebih dari 50 persennya atau sekitar 2.0000-an masjid tidak tepat mengarahkan arah kiblatnya.

Badan Hisab dan Rukyat Kota Bandung menyebutkan arah kiblat disepakati berada di 25 derajat 10 menit dari titik barat hampir barat laut.

"Jumlah masjid di Bandung ada empat ribu. Lebih 50 persen arah kiblatnya tidak tepat. Ya, banyak yang melenceng, memang benar ke arah barat, tapi umumnya kurang ke sebelah kanan," kata Kepala Badan Hisab dan Rukyat Kota Bandung, Maftuh Kholil, seperti dikutip detik.com.

Maftuh menjelaskan, pihaknya untuk tahap awal bakal kalibrasi arah kiblat di enam masjid yang tersebar di enam wilayah Kota Bandung. Selain itu, menggencarkan sosialisasi kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) tingkat kecamatan dan masjid yang kapasitasnya besar.

"Targetnya dalam setahun semua masjid selesai (sesuai arah kiblat). Selain itu, dimohon para ketua DKM harus ada permohonan kepada kami untuk kalibrasi. Gratis atau tanpa dipungut biaya, kami sudah siap menerjunkan petugas untuk mengkalibrasi arah kiblat. Jadi bukan bangunan (masjid) yang digeser, sajadahnya yang geser," tutur Maftuh.

Selain masjid, kata Maftuh, pihaknya juga merencanakan pemasangan tugu kiblat di seluruh tempat pemakaman umum (TPU). Sebab, sambung Maftuh, wajah jenazah umat Islam sewaktu dimakamkan lazimnya mengarah ke kiblat.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan pada 2015 mendatang diharapkan seluruh masjid sudah sesuai arah kiblat yang akurat.

Emil sapaan Ridwan, menyebut adanya pergeseran untuk arah kiblat yang tepat memang bakal membuat tidak nyaman antara posisi mimbar dan sajadah.

"Nanti sajadahnya miring-miring, tapi itu resiko. Daripada mengikuti kondisi arah kiblat yang enggak akurat lagi. Jadi arah sajadah saja digeserkan," kata Emil.*

December 8, 2014

4.000 Masjid di Bandung Segera Miliki Sertifikat Arah Kiblat

4.000 Masjid di Bandung Segera Miliki Sertifikat Arah Kiblat
Sekitar 4.000 masjid di Kota Bandung segera memiliki sertifikat arah kiblat setelah melalui proses kalibrasi oleh Badan Hisab dan Rukyat (BHR).

"Tahun 2015 proses kalibrasi selesai, jadi nanti sudah tidak akan dibingungkan lagi tentang arah kiblat," kata Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat Sosialisasi Pengukuran Arah Kiblat oleh BHR Kota Bandung di Gedung Al-Ukhuwah, Bandung, Senin (8/12).

Ia menuturkan, Kota Bandung merupakan daerah yang memiliki masjid terbanyak di Indonesia sehingga perlu didukung dengan sertifikat arah kiblat.

"Kami menyambut baik, apalagi ini adalah sebuah upaya yang menyangkut hajat hidup orang banyak," ujarnya seperti dikutip Antara.

Pihak Badan Hisab dan Rukyat terlebih dahulu melakukan kalibrasi ulang yang ditargetkan selesai seluruhnya 2015, untuk selanjutnya 2016 diberikan sertifikat itu.

Selain masjid, ltempat pemakaman juga akan dipasang tanda seperti tugu yang fungsinya menunjukan arah kiblat.

Khusus pemakaman luas, Ridwan berharap petunjuknya dapat ditambah berupa kayu kecil sehingga masyarakat merasa mudah mengetahui arah kiblat.

"Masyarakat membutuhkan tanda arah kiblat di tempat pemakaman yang selama ini belum ada," katanya.*

December 7, 2014

Hukum Shalat Tidak Mengerti Bacaannya

Hukum Shalat Tidak Mengerti Bacaannya
Bagaimana hukumnya orang shalat, tapi tidak mengerti arti dan makna bacaan shalat? 085269605XXX

JAWAB: Hukumnya tetap sah secara fiqih, selama bacaannya benar dan memenuhi syarat dan rukun shalat.

Jadi, ketidakmengertian bacaan tidak ada kaitannya dengan sah-tidaknya shalat, karena tidak termasuk syarat sah dan rukun shalat.

Namun, jika kita shalat tidak mengerti makna bacaannya, alangkah ruginya kita, karena shalat kita tidak akan khusyu dan kita tidak ”berdialog” dengan Allah SWT.

Lagi pula, sebagian besar bacaan shalat itu berisi doa. Mungkinkan kita meminta sesuatu (berdoa) kepada Allah tanpa paham apa yang kita minta? 

Karenanya, mari kita pelajari dan pahami bacaan shalat, dari takbir hingga salam, agar shalat kita khusyu, berpengaruh pada perilaku, dan kita merasakan kenikmatan spiritual ”berdialog” dengan Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawabi. (Tim Asatidz DKM Abu Bakar Ash-Shiddiq).*