June 25, 2015

Fungsi Masjid di Zaman Rasulullah Saw

masjid raya abu bakar ash-shiddiq gca
Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GGA Bandung.*
Masjid tidak hanya sebagai tempat shalat, tapi juga mendalami ilmu Islam, musyawarah, hingga pusat budaya dan iptek kaum Muslim.

MASJID atau mesjid adalah rumah ibadah umat Islam. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat shalat berjamaah, termasuk shalat Jumat.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan masjid sebagai "rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam".

Secara bahasa, masjid berasal dari akar kata Arab, sajada, yang artinya sujud. Masjid artinya tempat sujud, yakni shalat. 

Dalam perspektif Islam, setiap tempat yang dijadikan tempat shalat bisa disebut masjid. Rasulullah Saw menyatakan, bumi adalah masjid bagi umat Islam. Artinya, kaum Muslim tidak selalu harus di masjid jika hendak shalat, tapi bisa di mana pun selama tempatnya suci dan kondusif untuk shalat.

"Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku: aku dimenangkan dengan perasaan takut yang menimpa musuhku dengan jarak sebulan perjalanan, bumi dijadikan bagiku sebagai mesjid dan suci, siapa pun dari umatku yang menjumpai waktu shalat, maka shalatlah….” (HR Bukhari)

Masjid di Zaman Rasulullah Saw
Masjid adalah bangunan pertama yang didirikan Rasulullah Saw saat tiba di Yatsrib (Madinah) dalam peristiwa hijrah, yaitu Masjid Quba, yang hingga kini masih berdiri kukuh di Kota Madinah, Arab Saudi.

Setelah Masjid Quba, Nabi Muhammad Saw dan para sahabat mendirikan Masjid Nabawi pada 18 Rabiul Awal tahun pertama Hijriah. Masjid Nabawi bisa dikatakan "menyatu" dengan kediaman beliau Saw.

Pada masa itu, bentuk Masjid Nabawi sangat sederhana, yakni berdinding batu bata. Bagian sebelah utara diberi atap dan pada awalnya bagian utara adalah kiblat, yaitu Bayt Al-Maqdis.

Di sebelah utara dibuat serambi untuk tempat shalat yang bertiang pohon kurma, beratap datar dari pelepah dan daun kurma, bercampurkan tanah liat.

Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn, terdapat sebuah sumur tempat wudhu. Kebersihan terjaga, cahaya matahari dan udara dapat masuk dengan leluasa.

Prof Harun Nasution dalam Islam Rasional menyebutkan, di sinilah shalat dan ibadah pada mulanya banyak dilakukan. Ketika arah kiblat diubah dari Baitul Maqdis (Yerusalem) ke Ka'bah di Mekkah, maka sebagian sebelah selatan diberi atap pula.

Tetapi, atap bagian utara tidak dibuka karena di bagian itu dijadikan tempat berlindung dan menginap Ahl Al-Shuffah atau kaum muhajirin yang meninggalkan harta kekayaan mereka di Makkah dan turut hijrah dengan Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Di tempat kediaman yang baru ini mereka tidak memiliki apa-apa.

Di bagian sebelah timur dari masjid itu, pada mulanya ada dua ruangan kecil untuk untuk kedua istri Nabi Muhammad SAW, Saudah dan Aisyah.

Pintunya di sebelah barat dan orang yang ke luar dari ruangan tersebut langsung terhubung ke dalam ruangan masjid. Kemudian didirikan lagi tujuh rumah kecil yang serupa untuk istri Nabi Muhammad yang lainnya.

Dari gambaran di atas dapat dipahami bahwa masjid berfungsi tidak hanya untuk melakukan ibadah semata, tetapi juga tempat berlindung dan menginap bagi Ahl Al-Suffah dan rumah tempat tinggal bagi Rasulullah dan keluarga.

Fungsi Masjid
Dengan berkembangnya umat Islam di Madinah dari masyarakat perdesaan menjadi masyarakat kota dan kemudian menjadi negara, fungsi masjid bertambah.

Di masjid itulah, Rasulullah Saw menyempaikan ajaran Islam, nasihat, dan pidatonya kepada umat Islam. Di sinilah kemudia beliau bertindak sebagai hakim dan memutuskan persengketaan-persengketaan di kalangan umat.

Disinilah pula Rasulullah Saw bermusyawarah dengan para sahabat. Beliau mengatur siasat perang dan siasat bernegara pun di masjid.

Ringkasnya, Masjid Nabawi menjadi pusat pemerintahan militer dan sipilnya.

Keadaan tidak banyak berubah setelah Beliau wafat. Masjid madinah tetap merupakan pusat kegiatan pemerintahan.

Di sanalah Abu Bakar menerima bai'ah (pengangkatan sebagai khalifah) setelah disetujui dalam pertemuan di Saqifah Bani Saidah untuk menjadi pemimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW.

Masjid-masjid yang didirikan di daerah-daerah yang tunduk pada kekuasaan Islam tidak lama setelah Nabi Muhammad SAW wafat, mempunyai fungsi yang tidak banyak berbeda dengan fungsi masjid di Madinah.

Masjid-masjid itu tetap sebagai pusat pemerintahan dalam bidang sipil dan militer. Sewaktu kota Basrah didirikan pada 635 M sebagai markas militer, sebuah masjid ikut didirikan di tengah-tengahnya dengan tempat tinggal sang panglima yang saling berhadap-hadapan.

Demikian pula di Kufah, suatu tempat dekat Basrah. Bentuk lanskapnya didirikan serupa seperti di Basrah atas permintaan Khalifah Umar bin Khatab.

Tempat tinggal panglima, kemudian disatukan dengan masjid Kufah. Pola yang dipakai Amir bin Al-Ash dalam mendirikan fustat di Mesir sama dengan pola Basrah dan Kufah. Rumah panglima, seperti tempat tinggal Rasulullah berada di sebelah timur. Masjid-masjid tersebut tetap sebagai tempat kegiatan panglima, sebagai penguasa sipil dan militer.

Dalam perkembangan selanjutnya, tempat tinggal amir atau gubernur tetap berada di dekat masjid, dan masjid tetap merupakan tempat kegiatan pemerintahan. Tempat tinggal amir tidak bisa jauh dari masjid.

Perubahan terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Ketika Bagdad dibangun pada 762 M., didirikan istana sebagai pusat kegiatan pemerintahan. Masjid tidak lagi merupakan pusat kegiatan politik dan militer.

Tetapi, masjid terus merupakan tempat khalifah atau amir menyampaikan pengumuman-pengumuman penting kepada rakyat. Lambat laun Masjid putus hubunganya dengan kegiatan politik, dan mulai menjadi pusat peribadatan dan ilmu pengetahuan saja.

Dalam perkembangan selanjutnya, fungsi pokok yang tinggal bagi masjid ialah fungsi menampung kegiatan sholat. Dan pada masa sekarang fungsi masjid menjadi semakin terbatas, yakni sholat Jumat dan sholat tarawih pada bulan Ramadhan.

Lima Fungsi Masjid
Imam Masjid al-Istiqlal, Ali Mustafa, mengatakan, terdapat lima fungsi Masjid pada zaman Rasulullah SAW. Hal ini berarti Masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah saja seperti yang selama ini dilakukan di Indonesia.

"Ada lima fungsi, kalau tidak salah sudah pernah saya tulis di buku saya," ungkap Ali Mustafa kepada Republika.

Ali Mustafa menyebutkan lima fungsi Masjid di zaman Rasulullah SAW, yakni:
  1. Tempat ibadah 
  2. Pembelajaran. 
  3. Tempat musyawarah
  4. Merawat orang sakit
  5. Asrama.
Pernyataan Imam Masjid al-Istiqlal ini dinyatakannya setelah rektor Uhamka mewacanakan agar fungsi Masjid dikembalikan seperti zaman Rasulullah SAW. Pada zaman Rasulullah SAW, Masjid berfungsi sebagai pusat budaya dan ilmu pengetahuan.
Ali pun mengakui bahwa fungsi Masjid memang demikian di zaman rasul. Dalam hal ini, lima fungsi itu dapat membantu Masjid menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahuan.

Menurut Ali, ada beberapa fungsi yang dirasa kurang tepat untuk diterapkan zaman sekarang. Dia menegaskan, fungsi Masjid sebagai asrama tidak tepat jika dilakukan saat ini.

Ali juga menerangkan, pada zaman rasul, Masjid memang berfungsi sebagai asrama untuk para pelajar suffah. Hal ini berarti sekitar 300 hingga 400 orang akan tinggal di Masjid untuk belajar. Dia menegaskan, jika kondisi ini diterapkan pada zaman sekarang dinilai kurang cocok.
Menurut Ali, jika kondisi tersebut terjadi di zaman sekarang, Ali khawatir Masjid akan menjadi tempat yang kumuh. Kecuali, dia menambahkan, asrama itu dibangun di sekitar atau di luar bangunan Masjid.

"Intinya, kelima fungsi atau aktivitas itu bisa dijalankan apabila dibangun di sekitar bangunaan Masjid. Jadi usahakan tidak menyatu dengan bangunan Masjid, "tambahnya.

Sebelumnya, rektor Uhamka mewacanakan agar fungsi Masjid dikembalikan fungsinya seperti di zaman Rasulullah SAW, yakni sebagai pusat budaya dan ilmu pengetahuan. Dia juga menyarankan agar Masjid bisa dilengkapi dengan perpustakaan dan internet. Wallahu a'lam bish-shawabi. (http://www.masjidrayagca.com).*

Sumber: Republika & Wikipedia


June 16, 2015

Jadwal Ceramah Tarawih & Shubuh Ramadhan 1436 H / 2015 M

Jadwal Ceramah Tarawih & Shubuh Ramadhan 1436 H / 2015 MJadwal Ceramah Tarawih & Shubuh Ramadhan 1436 H / 2015 M Masjid Abu Bakar Ash - Shiddiq Griya Cempaka Arum (GCA) Gedebage Bandung

SETIAP Ramadhan, sebelum shalat tarawih berjamaah, masjid-masjid biasanya menggelar tausiyah atau ceramah singkat, sekitar 15 menit.

Selain itu, tiap ba'da Shalat Shubuh berjamaah, juga ada tausiyah ringkas untuk siraman rohani dan meningkatkan ilmu, iman, dan takwa.

Brikut ini  Jadwal Ceramah  Tarawih & Shubuh Ramadhan 1436 H / 2015 M di Masjid  Abu Bakar Ash - Shiddiq Griya Cempaka Arum (GCA) Gedebage Bandung


Rabu 17 Juni 2015 - Ust. H. Tisna Sutisna
Kamis 18 Juni 2015 – Ust. Abdul Majid
Jum'at 19 Juni 2015 – Ust. H. Yaya Hudaya
Sabtu 20 Juni 2015 - Drs. H. Bambang Sukardi, M.Si/ Ust. Ahmad Baehaqi
Ahad 21 Juni 2015 - Ust. Erdi Herdiman

Senin 22 Juni 2015 - Ust. Ahmad Hidayat
Selasa 23 Juni 2015 - Prof. Dr. H. Asep S Muhtadi
Rabu 24 Juni 2015 - Ust. H. Asril
Kamis 25 Juni 2015 - Ust. Rudi R Fadillah
Jum'at 26 Juni 2015 - Ust. Setiamedi
Sabtu 27 Juni 2015 - Ust. H. Firdaus
Ahad 28 Juni 2015 - Ust. Ridwan

Senin 29 Juni 2015 - Ust. H. Djazuli
Selasa 30 Juni 2015 - Ust. Asep S. Romli
Rabu 1 Juli 2015 - Ust. Ramram Mansur R.
Kamis 2 Juli 2015 - Ust. H. Dedi Suhaeri
Jum'at 3 Juli 2015 - Ust. Ahmad Baehaqi
Sabtu 4 Juli 2015- Ust. Maman
Ahad 5 Juli 2015 - Ust. Iwan Setiawan

Senin 6 Juli 2015 - Ust. Mukhozin
Selasa 7 Juli 2015 - Ust. H. Fauzi H
Rabu 8 Juli 2015 - Ust. Mt. Rochman
Kamis 9 Juli 2015 - Ust. Ahmad Baehaqi
Jum'at 10 Juli 2015 - Ust. Ahmad Fauzi
Sabtu 11 Juli 2015 - Ust. Prihantoro
Ahad 12 Juli 2015 - Ust. Ramram Mansur R.

Senin 13 Juli 2015 - Ust. Iwan Setiawan
Selasa 14 Juli 2015 - Ust. Khoer Affandi
Rabu 15 Juli 2015 - Ust. M. Yassir Sjarif
16 Juli 2015 - Malam Takbiran.*

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1436 H / 2015 M Kota Bandung

Puasa Ramadhan
Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1436 H / 2015 M Kota Bandung.

IMSAKIYAH adalah jadwal puasa. Demikian pemahaman kita selama ini. Imsakiyah berasal dari kata Imsak yang artinya menahan diri, yakni menahan diri dari makan dan minum serta hal lain yang membatalkan puasa.

Dengan demikian, imsak sebenarnya sama dengan puasa. Maka, waktu imsak artinya waktu mulai berpuasa, yaitu "pas" atau bersamaan dengan masuknya waktu Shalat Shubuh.

Dalam jadwal imsakiyah, biasanya waktu imsak disebutkan sepuluh menit sebelum Subuh atau waktu subuh dikurangi 10 menit. Itu dimaksudkan sebagai sinyal agar umat Islam bersiap-siap untuk mulai berpuasa, bukan awal puasa itu sendiri, karena awal puasa tepat sama dengan awal waktu shalat Subuh.

Berikut ini Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1436 H / 2015 M Kota Bandung


Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1436 H / 2015 M Kota Bandung
Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1436 H / 2015 M untuk Wilayah Kota Bandung dan sekitarnya.

Syarat Sah Puasa Ramadhan Menurut Empat Madzhab

 Syarat Sah Puasa Ramadhan
Syarat Sah Puasa Ramadhan Menurut Empat Madzhab
SETIAP Muslim berakal, baligh (dewasa), dan sehat wajib puasa selama bulan Ramadhan. Puasa tidak wajib bagi anak kecil, orang gila, orang pingsan, dan orang mabuk.

Muslim yang sakit dan musafir juga tidak wajib puasa, namun mereka wajib mengqadha atau membayar fidyah jika tidak berpuasa.

“(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Puasa juga tidak wajib atas orang yang tidak sanggup melakukannya lantaran usianya sudah tua, juga tidak wajib atas wanita yang haid karena –secara hukum syari’at- dia tidak mampu melakukan puasa, juga tidak wajib atas wanita hamil karena –secara fisik- mereka tidak mampu berpuasa.

Syarat Sah Puasa
Dalam buku Fiqih Islam karya Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili disebutkan tentang syarat sah puasa menurut empat imam madzhab (madzahibul 'arbaah).

Menurut Madzhab Hanafi, syarat sah puasa:
  1. Niat
  2. Kosong dari perkara yang menafikan puasa (haid dan nifas)
  3. Kosong dari perkara yang membatalkannya.
Menurut Madzhab Maliki, syarat sah puasa:
  1. Niat
  2. Suci dari haid dan nifas
  3. Beragama Islam
  4. Waktu yang boleh untuk diisi dengan puasa (puasa tidak sah pada hari Raya Id). 
  5. Berakal.
Menurut Madzhab Syafi`i, ada empat syarat sah puasa:
  1. Beragama Islam
  2. Berakal
  3. Suci dari haid dan nifas pada keseluruhan siang.
  4. Niat
 Madzhab Hambali menetapkan tiga syarat:
  1. Beragama Islam
  2. Niat
  3. Suci dari haid dan nifas.
Syarat sah di atas adalah dalam perspektif fiqih. Artinya, jika memenuhi syarat-syarat tersebut, maka puasa seorang Muslim/Muslimah sudah dan gugur kewajiban.

Syarat Sah Pahala Puasa
Syarat Sah Puasa dalam perspektif tasawuf lain lagi. Selain harus memenuhi syarat sah secara fiqih di atas, puasa juga harus memenuhi syarat a.l. tidak berkata dusta dan tidak berkata kotor, keji, dan cabul.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy).

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”. (HR. Ibnu Majah dan Hakim). (Kitab Fathul Bari).

Demikian Syarat Sah Puasa Ramadhan Menurut Empat Madzhab, termasuk syarat sah pahala alias hal yang harus dijauhi agar pahala puasanya tidak hangus.

Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk bisa memenuhi syarat-syarat sah puasa dan menjauhi hal yang membatalkannya baik secara fiqih maupun tasawuf. Amin...! (www.risalahislam.com).*

Kunjungi: Panduan Ibadah Ramadhan

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA Gedebage Bandung

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq Griya Cempaka Arum Gedebage Bandung. Salurkan donasi Anda melalui rekening dan alamat di halaman DONASI.

Allah Tabaraka Wata’ala, berfirman dalam Hadits Qudsi: “Hai anak adam, infaqkanlah hartamu, niscaya aku memberikan nafkah kepadamu” ( HR. Muslim).

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA

Desain Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq GCA

June 11, 2015

Perkembangan Pembangunan Masjid Raya GCA

Perkembangan Pembangunan Masjid Raya GCA. Masjid Raya Abu Bakar Ash-Shiddiq di Kompleks Girya Cempaka Arum (GCA) Gedebage Bandung masih dalam proses penyelesaian. Kendala utamanya adalah "masalah klasik", yakni dana. (Klik DONASI)

Berikut ini foto-foto terbaru masjid yang berdekatan dengan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini yang diambil Rabu 10 Juni 2015. (Foto: M. Yassir).

Masjid Raya GCA

Masjid Raya GCA

Masjid Raya GCA

Masjid Raya GCA

Masjid Raya GCA

Masjid Raya GCA

Masjid Raya GCA

Masjid Raya GCA

Masjid Raya GCA

Masjid Raya GCA



Berbahagialah Orang yang Berpuasa Ramadhan

Berbahagialah Orang yang Berpuasa Ramadhan
Puasa (shaum) merupakan kebutuhan, bukan sekadar kewajiban dan taklif ilahi belaka. Puasa merupakan pendidikan, bukan beban belaka. Puasa merupakan tuntunan menuju perbaikan diri, bukan sekadar tuntutan samawi belaka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Al-Baqarah:183)

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Al-Baqarah : 184).

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Al-Ahzab : 35).

Puasa pada hakikatnya adalah momentum untuk menjadikan diri sebagai pribadi baru yang lebih sukses dan bahagia. Melalui puasa hubungan jiwa manusia begitu kuat dengan Allah, karena dengan puasa berarti mampu melakukan pengendalian diri; terhindar dari berbagai perbuatan maksiat; terhindar berbuat salah dan keliru karena pikiran lebih jernih dan tak terkontaminasi oleh apa pun; sekaligus banyak menuai kebaikan karena benih kebaikan yang ditebarkan pada sesama. Dan kadang pula hampir selalu bisa meraih cita-cita dan keinginan baik karena pribadi yang lebih sabar (lebih hati-hati dan tak kenal lelah) untuk berusaha meraih cita-cita dan keinginan baik itu.

Puasa juga merupakan sarana untuk mendidik manusia -terutama umat Islam- agar sukses dan bahagia dalam menjalani hidup; yaitu dengan selalu teratur dalam menata waktu secara baik; Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah. Sebagaimana dengan puasa juga mendidik manusia untuk hidup yang lebih baik dan mencapai derajat yang terbaik; baik melalui jalinan hubungan yang baik secara horizontal (hubungan yang erat dengan Allah) dan vertikal (hubungan baik kepada seluruh makhluk, terutama sesama muslim dengan saling memberi, saling peduli dan meningkatkan solidaritas yang tinggi).

Dengan ibadah puasa pula, Allah SWT ingin memberikan tarbiyah (pembinaan) kepada umat; agar tercetak sosok yang shalih; meningkat keimanannya; bertambah mulia akhlaqnya; dan luas pengetahuannya serta tinggi komitmennya terhadap jalan dakwahnya dalam rangka menggapai ridha Allah SWT, lalu setelah itu akan lahir kepribadian islami yang utuh dan seimbang, yang siap menjawab tantangan zaman dengan segala problematika, ujian dan cobaan hidup di dunia menuju kebahagiaan hidup yang kekal di alam akhirat kelak.

Aisyah ra pernah berkata:

إِذَا سَلِمَ رَمَضَانَ سَلِمَتِ السَّنَةُ ، وَإِذَا سَلِمَتِ الْجُمُعَةُ سَلِمَتِ الأَيَّامُ

“Jika seseorang selamat –secara baik- dalam ibadah Ramadhan maka akan selamatlah satu tahun penuh setelahnya, dan jika selamat pada hari jumat nya maka akan selamat pula hari-hari setelahnya”. (Baihaqi)

Adapun secara garis besarnya, ibadah puasa merupakan sarana tarbiyah yang meliputi beberapa hal berikut:

1. Puasa; sarana tarbiyah Ruhiyah (pembinaan spiritual menuju kesucian jiwa)

Pada dasarnya setiap ibadah yang Allah SWT perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, selain merupakan kewajiban dan alasan penciptaan manusia dan makhluk lainnya; juga merupakan sarana untuk membersihkan diri dari berbagai kotoran dan dosa yang melumuri jiwanya, sehingga tidak ada satu ibadah pun yang lepas dari tujuan tersebut; shalat misalnya merupakan sarana untuk mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat yang dikeluarkan oleh orang kaya merupakan sarana untuk membersihkan diri dan hartanya dari kotoran yang terdapat dalam jiwa dan hartanya, seperti yang tersirat dalam surat At-Taubah ayat 103 Allah berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan (jiwa dan harta) mereka”.

Dan dalam surat Al-Lail ayat 18.

الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى

“Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya (jiwa dan hartanya)

Begitu pula dengan ibadah puasa; berfungsi sebagai sarana tazkiyatunnafs (pembersih jiwa); karena orang yang berpuasa selain dapat menjaga diri untuk tidak makan dan minum, juga dituntut untuk mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, melatih diri untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT walau dalam keadaan lapar, bersikap jujur, menjaga diri dari ucapan kotor dan keji, sifat dengki dan hasad. Dan dalam ibadah puasa juga ada hikmah yang tinggi; memenangkan ruh ilahi atas materi dan akal atas nafsu angkara murka.
Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu, dapat menghapus segala kesalahan-kesalahan (dosa-dosa)”. (Huud:114)

Dan nabi saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan dihapus segala dosa-dosanya yang telah lalu”. (Bukhari)

2. Puasa; sarana tarbiyah jasadiyah (pembinaan jasmani untuk lebih kuat)

Ibadah puasa juga merupakan ibadah yang tidak hanya membutuhkan pengendalian diri dari hawa nafsu namun juga membutuhkan kekuatan fisik, karenanya puasa tidak wajib pada mereka yang kesehatannya tidak prima dan tidak memiliki kemampuan untuk berpuasa, seperti orang tua yang telah renta, orang sakit, wanita yang sedang hamil tua atau menyusui dan khawatir terhadap kesehatan janin atau bayinya, serta orang yang sedang musafir (dalam perjalanan); yang mana semua itu diberikan rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Maka Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al-Baqarah:184).

3. Puasa; sarana tarbiyah ijtima’iyah (pembinaan sosial)

Selain melatih diri, puasa juga memiliki sisi pendidikan sosial, apalagi dalam kewajiban puasa Ramadhan, kian terasa sisi tarbiyah sosialnya; karena umat Islam di seluruh dunia diwajibkan menunaikan ibadah puasa, tanpa terkecuali; baik yang kaya maupun yang miskin, pria maupun wanita, para pejabat maupun rakyat jelata, dan lain-lainnya, kecuali bagi mereka yang memiliki udzur syar’i (alasan sesuai syariah), dan disinilah letak pendidikan sosialnya; mereka berada pada derajat yang sama di hadapan perintah Allah SWT; sama dalam merasakan lapar dan dahaga serta dalam menahan hawa nafsu lainnya, begitupun sama dalam ketundukan terhadap perintah Allah SWT.

Sebagaimana puasa juga dapat membiasakan umat untuk hidup dalam kebersamaan, bersatu, saling mencintai dan berkasih sayang kepada sesama terutama terhadap fakir dan miskin, sehingga orang-orang yang mampu dapat merasakan apa yang diderita oleh orang-orang fakir dan miskin, lalu tergugah hatinya untuk mau memberi dari sebagian rezki yang Allah SWT anugerahkan kepadanya. Dan dari sini pula di harapkan timbul rasa persaudaraan dan solidaritas serta peduli melalui ibadah puasa.

Sebagaimana dalam ibadah puasa bulan disunnahkan untuk memperbanyak sedekah, karena sedekah yang paling utama adalah yang dilakukan pada bulan Ramadhan; baik dengan sedekah yang wajib; seperti berzakat mal, zakat fitrah, zakat niaga, zakat profesi, maupun sedekah yang sunnah; seperti berinfak, memberi makan (iftar) kepada orang yang berpuasa, dan lain sebagainya.

Dan dalam puasa juga ditanamkan sifat tenggang rasa dan saling menghormati dalam kehidupan yang memiliki keragaman etnis, warna kulit dan ras, apalagi sesama muslim yang memiliki keragaman mazhab, kelompok dan golongan yang berasal dari keragaman pemahaman dalam mengambil intisari dari ajaran Islam.

Bahwa perbedaan kelompok, mazhab dan golongan adalah merupakan hal yang lumrah, namun yang patut kita sadari adalah bahwa dengan adanya perbedaan tersebut umat Islam tidak boleh terpecah belah dan tidak bersatu, namun hendaknya bisa dijadikan sarana untuk memupuk persaudaraan, menambah wawasan dan memperkokoh bangunan Islam, sehingga dengannya tidak akan terjadi saling gontok-gontokkan, saling mencela, saling menuding dan saling menghina apalagi saling berkelahi dan saling membunuh, oleh karena permasalahan sepele dan furu’ saja.

4. Puasa; sarana tarbiyah khuluqiyah (pembinaan akhlaq menuju pribadi mulia)

Puasa juga mendidik manusia untuk memiliki akhlaq yang mulia dan terpuji, memiliki kesabaran dan kejujuran serta ketegaran dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, hal ini terlihat dari arahan Rasulullah Saw. dalam meriwayatkan hadits Qudsi bahwa orang yang berpuasa wajib meninggalkan akhlaq yang buruk. Wajib menjaga diri, jangan sampai melakukan ghibah (menceritakan aib orang lain), atau melakukan hal-hal yang tiada berguna, sehingga Allah SWT berkenan menerima puasanya.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلاَّ الصِّيَامُ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثُ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَسْخَبُ، فَإِنْ سَابّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Allah SWT berfirman, “Semua amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila kamu sedang puasa janganlah berkata keji(memaki), janganlah berteriak-teriak dan janganlah berbuat perkara yang bodoh. Apabila ada seseorang yang mencacinya atau memeranginya maka katakanlah ‘Sesungguhnya aku sedang puasa… .” (Bukhari dan Muslim)

5. Puasa; sarana tarbiyah jihadiyah

Puasa juga merupakan sarana menumbuhkan semangat jihad dalam diri umat Islam, terutama jihad dalam memerangi musuh yang ada dalam setiap jiwa; dengan mengikis hawa nafsu, dan berusaha menghilangkan dominasi jiwa yang selalu membawanya kepada perbuatan yang menyimpang. Sebagaimana puasa juga menumbuhkan semangat jihad nyata dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh-musuh Islam yang setiap saat merongrong eksistensi umat Islam. Oleh karenanya banyak kisah yang terjadi pada masa Rasulullah saw bahwa peperangan yang terjadi dan dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya adalah pada bulan puasa, dan justru dengan berpuasa mereka dapat lebih semangat dalam berjihad, hati dan jiwa merasa terasa lebih dekat kepada Allah SWT dibanding pada hari dan bulan lainnya.
Dan puncak tarbiyah yang dapat diraih oleh seorang muslim dalam ibadah adalah mencapai derajat taqwa, sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT pada penutup perintah-Nya untuk berpuasa, “agar kamu bertaqwa”, karena dengan puasa kesehatan hati dan jasmani terjaga.

6. Puasa;  Sarana Tarbiyah Shihiyyah

Rasulullah saw bersabda :

وَصُومُوا تَصِحُّوا

“Berpuasalah kalian, niscaya akan sehat” (Thabrani).

Puasa selain merupakan ibadah amaliyah yang diwajibkan dengan cara menahan diri dari makan, minum dan hawa nafsu, juga merupakan sarana yang dapat memberikan kesehatan bagi tubuh. Karena dalam kondisi normal, tubuh mendapatkan energi dan nutrisi yang berasal dari luar tubuh, melalui makanan, minuman dan radiasi Autolisis atau self digest yang merupakan salah satu program untuk mendapatkan energi dan nutrisi yang berasal dari dalam tubuh, melalui pembakaran sel-sel tubuh yang dikenali sebagai sumber makanan. Saat berpuasa maka program Autolisis ini aktif dan memberi manfaat yang dibutuhkan makhluk.

Ketika berpuasa sistem pencernaan manusia beristirahat. Sel-sel liar dan lemak yang telah dihancurkan akan dibawa ke hati. Saat puasa, hati tidak disibukkan oleh makanan hasil serapan dari usus. Oleh karena itu, hati akan bekerja penuh menyaring racun-racun hasil autolisis. Dan selanjutnya racun akan dibuang keluar tubuh. Lalu darah akan dipenuhi energi dan nutrisi yang sehat dan berkualitas tinggi. Menjamin penggantian sel mati, perbaikan sel rusak, dan pembentukan sel baru, terjadi dengan kualitas prima. Tubuh manusia akan segera memiliki sel-sel baru dengan kualitas fitrah, sehat dan berfungsi baik ketika puasa. Sementara itu, energi yang di hemat dari sistem pencernaan, akan digunakan untuk aktivitas sistem kekebalan tubuh dan proses berpikir oleh otak.

Jadi manfaat puasa dari sisi kesehatan bagi manusia sangatlah banyak, seperti :

1. Efektifitas pengelolaan energi

2. Menghancurkan sel-sel yang tidak dibutuhkan
3. Membuang endapan racun dalam tubuh
4. Menyembuhkan penyakit
5. Meningkatkan kemampuan belajar
6. Kembali Fitrah (awet muda dan cerdas)

Bedanya orang puasa dan orang yang telat makan adalah pada niatnya. Saat lapar, otak memerintahkan organ-organ pencernaan bersiap-siap ‘makan’. Liur, lambung, hati, usus, beramai-ramai mengeluarkan enzim dan beraktivitas. Bila tidak ada makanan yang masuk, maka lambung dan usus akan sakit. Kita akan terkena sakit maag atau radang usus, karena lapar namun berbeda dengan puasa yang sejak awal sudah diniatkan, sehingga sel-sel tubuh tidak aktif mencari solusi mendapatkan makanan, dan sangat jarang orang karena puasa terkena penyakit maag dan kembung.

Allah SWT mewajibkan umat manusia (umat Islam) berpuasa pada siang hari bukan pada malam hari; karena pada siang hari manusia beraktivitas bukan tidur, dan dengan aktivitas tersebut akan membakar energi hingga habis.

Bahwa kebutuhan energi diperoleh dari glukosa hasil makan (sahur). Setelah habis energi diperoleh dari glikogen dalam darah. Bila kandungan glikogen berkurang baru otak menyatakan lapar dan menyuruh makan. Bila kita sedang puasa, otak akan menghidupkan program Autolisis. Namun pada malam hari, tanpa aktivitas fisik, energi yang dibutuhkan tubuh sedikit, sehingga glikogen darah tidak pernah terpakai dan autolisis tidak pernah diperintahkan untuk aktif. Jadi ketika berpuasa sebaiknya manusia beraktifitas normal, agar dapat memperolah manfaatnya bukan tidur sepanjang siang.

Dan puasa hanya dibatasi pada siang hari saja, yang dimulai sejak waktu subuh tiba hingga beduk Maghrib; karena jika puasa melebihi waktu dari 16 jam akan membahayakan tubuh. Produksi enzim oksidasi asam lemak dalam tubuh terbatas dan akan habis bila manusia berpuasa selama 16 jam lebih. Dan bila seseorang memaksakan diri untuk terus berpuasa, maka kadar asam lemak bebas (free fatty acids) dalam darah akan tinggi sehingga dapat menyebabkan otak menjadi pusing, kemudian membengkak dan lama-lama menjadi koma. Oleh karena itu, makan sahur mendekati imsak, dan bersegera berbuka waktu masuk magrib sangat ditekankan, dan menjadi bagian dari fitrah yang telah digariskan oleh Allah SWT dan Rasulullah saw.

Dan puasa hanya diwajibkan selama satu bulan penuh dalam setahun, oleh karena lebih dari 90% sel dalam tubuh manusia mengalami peremajaan dalam periode 28 hari. Terutama pada beberapa hal berikut:

1. Sel kulit dan kulit kepala, sel-sel hati, dan sel-sel yang membentuk kalsium pada tulang mati dan diganti setiap hari.

2. Sel reseptor informasi dari saraf, pembentukan sel melanin di kulit, dan sel-sel yang terkait dengan haid wanita. mempunyai siklus pergantian setiap satu bulan (sekitar 28 hari).

3. Sel darah merah diganti setiap 4 bulan (120 hari)

4. Sel otak mempunyai siklus pergantian bertahun-tahun

Dan ibadah puasa hanya diwajibkan pada bulan Ramadhan bukan pada bulan-bulan lainnya; oleh karena ada siklus badai radiasi matahari yang memberi kemampuan belajar yang tinggi; dan tubuh yang fitrah dapat terkontaminasi kembali atau aus, baik oleh perubahan iklim/musim, maupun oleh pola hidup manusia. Seiring perubahan musim, adaptasi sel-sel tubuh akan berulang setiap tahun. Sebelum memulai siklus adaptasi berikutnya, maka sel-sel harus disiapkan dalam kondisi fitrah. Sehingga puasa satu bulan harus diulangi setiap tahun. Karena puasa menyediakan energi extra untuk belajar atau berpikir, dan sebaiknya puasa yang dilakukan pada saat kondisi alam yang baik, akan mendukung kondisi kecerdasan (daya tangkap) otak. Aktivitas otak terlihat dari getaran membran sel otak, dan tingkat getaran otak dipengaruhi oleh radiasi elektromagnetik. Tingkat kesadaran otak berbeda antara malam, pagi, siang dan sore hari. Badai matahari juga berpengaruh terhadap tingkat kesadaran otak.

Berdasarkan skala NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), Badai Radiasi Matahari dikelompokkan dalam lima skala (S1-S5). Badai matahari yang mempunyai siklus tahunan terletak antara skala S2 (Moderate) dan S3 (Strong), yang masih aman bagi manusia.

Pada setiap bulan Ramadhan diperkirakan terjadi badai radiasi dengan tingkat flux 700-800 MeV particle s-1 ster-1 cm-2. Radiasi ini sekitar seribu kali radiasi bulan purnama dengan tingkat flux 0.7-0.8 MeV particle s-1 ster-1 cm-2. Ini adalah hipotesa malam lailatul qadar yang bernilai seribu bulan (wAllah SWTu’lam) Tingkat kesadaran otak yang tinggi di bulan Ramadhan merupakan alasan mengapa banyak Nabi merenung di bulan ini, dan mengapa Al Quran turun pada bulan ini.

Pada saat berpuasa dilarang melakukan hubungan seksual; oleh karena hubungan suami istri pada saat puasa selain merupakan pelanggaran syariat, juga menguras energi; yang mana semua orang memahami betul bahwa;

1. Sex adalah aktivitas fisik seperti olahraga yang membutuhkan energi tinggi

2. Karena dengan bersentuhan akan terjadi saling pindah energi (hukum termodinamika) secara tak beraturan

3. Karena sex merupakan tingkat emosi tertinggi yang ada pada diri manusia sehingga dapat menguras energi yang sangat besar

4. Adanya ejakulasi pada saat hubungan intim dapat membuang banyak energy dan kebutuhan pemulihan energi yang banyak setelah sex, akan mempercepat habisnya enzim oksidasi. Bila dipaksakan terus berpuasa, maka dikhawatirkan sebelum waktu berbuka tiba, akan terjadi penumpukan asam lemak bebas yang bikin otak pusing, sementara tujuan fitrah jadi tidak tercapai.

Karena itu, ketika berpuasa hendaknya menjauhi hal-hal yang mengarah pada pikiran-pikiran porno. Tahan sebentar. Nanti ketika malam dan sudah tidak puasa, diperbolehkan berhubungan badan dengan suami/istri yang sah

Sebagaimana orang puasa diperintahkan untuk menahan gairah sex-nya maka secara umum diperintahkan untuk menahan emosi, karena yang berlebihan juga akan menguras energi. Otak akan menyerap energi cukup besar.

Otak juga akan memerintahkan jantung untuk berdetak lebih cepat sehingga semakin banyak energi terkuras oleh adanya emosi negatif dan akan membawa manusia pada kondisi stress, suatu kondisi otak yang kacau karena keinginan tidak sama dengan kenyataan, dan jalan keluarnya belum ditemukan. Stress menyebabkan otak mengkonsumsi energi dalam jumlah banyak.

Oleh karena itu, sebaiknya saat berpuasa manusia tidak mengumbar emosi negatif seperti marah, takut, benci, iri, dengki, sombong, dusta, dan lain-lain. Hadapi hal-hal yang kurang menyenangkan dengan sabar.

Sebaliknya manusia juga harus memperbanyak kondisi yang membangun emosi positif, seperti tersenyum, optimis, membantu orang lain, melakukan tindakan-tindakan yang bernilai baik (amal saleh), bersedekah, dan lain-lain.

Euphoria adalah kegembiraan yang diungkapkan secara berlebihan, juga akan menyedot energi. Sebaiknya hadapi semua hal yang menyenangkan dengan bersyukur.

Selain berpuasa di siang hari, umat Islam juga diperintahkan untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Oleh karena shalat tarawih bersifat sunnah, artinya aktivitas tambahan yang memberi manfaat. Menjelang tidur, otak berada pada gelombang Teta (3-7 hz), suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya penyamaan persepsi dan pembentukan paradigma bagi di seluruh bagian otak.

Persepsi dan paradigma sangat membantu manusia bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga persepsi dan paradigma yang harus dibangun tentu yang bernilai tinggi. Sesuai dengan tatanan jaringan neurotransmitter otak, maka paradigma bernilai tinggi adalah Ke-Esaan Allah SWT, kehidupan setelah mati, aktivitas kehidupan dunia yang bermanfaat (taqwa) dan senantiasa bersyukur.

Memperbanyak shalat dan dzikir, secara spiritual juga dapat mendekatkan dan mengakrabkan diri kepada sang pencipta; Allah SWT. Melepaskan seluruh beban dan mengharap pertolongan-Nya pada setiap langkah kehidupan. Selalu mengawali kehidupan dengan gembira dan tanpa rasa takut.
Adanya rukhsah (keringanan) bagi orang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa, dikarenakan puasa dapat menguras energi dan tidak diperbolehkan bagi yang kurang energi;

1. Orang yang sakit keras, apalagi harus diinfus dan transfusi darah, maka boleh baginya tidak berpuasa. Namun, jika hanya sekadar flu ringan sebaiknya puasa

2. orang yang dalam perjalanan yang menghabiskan energi. Dan jikalau naik pesawat dua jam lebih baik puasa

3. Wanita haidh

4. Orangtua dan anak-anak yang lemah fisik

Untuk menjaga kestabilan tubuh pada saat puasa dan pada waktu berbuka, maka harus diperhatikan pola makan yang sehat di saat puasa;

1. Jangan makan yang mengandung virus dan bakteri penyakit, seperti kondisi daging bangkai yang sedang terjangkit influenza.

2. Jangan makan yang mengandung unsur-unsur beracun, seperti yang terkandung dalam darah

3. Jangan makan jenis lemak yang sulit dicerna perut, sulit disaring hati, dan sulit diangkut oleh darah, seperti yang ada pada daging babi

4. Jangan minum minuman yang segera merusak sel-sel otak, seperti alkohol dan jenis khamar lain

5. Jangan menghisap asap yang merusak paru-paru, mengotori darah dan mengurangi suplai energi ke otak, seperti rokok

6. Seimbang kan porsi karbohidrat, lemak dan protein, atau ikuti saran 4 sehat 5 sempurna

7. Jangan makan melebihi kapasitas lambung yang hanya 1-1.5 liter

8. Di saat buka dianjurkan minum air putih dan jus buah/kurma lalu shalat Maghrib, untuk membersihkan endapan racun pada dinding-dinding usus. Makan malam secukupnya setelah shalat Maghrib

9. Makan yang sehat adalah dengan posisi duduk disertai rasa bersyukur. Berdoalah sebelum dan setelah makan.

(Dikutip dan diringkas dari Quranic Quotient Centre yang disusun oleh Rajendra Kartawiria).

Adapun di antara keistimewaan ibadah puasa yang akan membuahkan kebahagiaan adalah sebagai berikut:

1. Puasa Sebagai Perisai.

Rasulullah saw bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِيرُ بِهَا الْعَبْدُ مِنْ النَّارِ

“Puasa itu adalah perisai yang dapat melindungi diri seorang hamba dari api neraka.” (Ahmad)

Puasa merupakan perisai karena memelihara setiap hamba yang berpuasa dari melakukan tindakan yang melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya. Memelihara diri agar tidak terjerumus pada perbuatan maksiat, perkataan kotor, dan hati yang pendengki.

2. Puasa Memasukkan Seseorang ke Dalam Surga

Sebagaimana telah disebutkan sebelum-nya bahwa puasa itu dapat menjauhkan diri dari api neraka, yang otomatis mendekatkan pelakunya kepada surga. Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:

قَالَ أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي بِأَمْرٍ يَنْفَعُنِي اللَّهُ بِهِ قَالَ عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ

“Abu Umamah Al-Bahili penah berkata: saya berkata: Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang Allah dapat memberikan manfaat kepadaku dengannya”. Maka Rasulullah saw. pun menjawab : “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)-nya.” (Nasa’i)

3. Puasa Mendapat Pahala Tak Terhitung

Allah SWT berfirman:



إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perem¬puan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perem¬puan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab : 35)

4. Orang yang Berpuasa Mendapatkan Dua Kebahagiaan

Nabi saw bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Ada dua kebahagiaan yang diperuntukkan bagi orang yang berpua¬sa; kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya.” (Bukhari dan Muslim)

5. Bau Mulut Orang yang Berpuasa Harum di Hadapan Allah

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw.: Allah swt. berfirman:

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Setiap amalan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali pua¬sa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberi paha¬la atasnya. Puasa itu adalah peri¬sai, maka pada saat berpuasa hen¬daknya seseorang di antara ka-mu tidak melakukan rafats (berji¬ma’ dan berbicara keji) dan tidak juga membuat kegaduhan. Jika ada orang yang mencacinya atau meny¬erangnya, maka hendaklah ia men¬gatakan, ”Sesungguhnya aku ber¬puasa”. Demi Allah yang jiwa Mu¬hammad berada di tangan-Nya, se¬sungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Al¬lah daripada bau minyak kesturi di hari kiamat. Dan bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua keg-embiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Rabbnya, ia gembira dengan puasanya.” (Bukhari dan Muslim)

6. Puasa dan Al-Qur’an Memberi Syafaat Bagi Pelakunya

Rasulullah saw. bersabda:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata: “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat di waktu siang, karenanya perkenankanlah aku untuk memberikan syafaat ke-padanya”. Dan Al-Qur’an berkata: “Saya telah melarangnya dari tidur di malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya. Beliau bersabda, ”Maka syafaat keduanya diperkenankan.” (Ahmad)

7. Puasa Sebagai Kafarat atau Penebus Dosa

Di antara keutamaan yang hanya dimiliki oleh ibadah shaum adalah bahwa Allah swt. telah menjadikan puasa sebagai penebus dosa bagi orang yang mencukur kepala dalam ihram karena ada halangan baginya, baik karena sakit atau karena gangguan yang terdapat pada kepala.” Al-Baqarah:196

Puasa juga dapat menjadi kafarat karena tidak mampu memotong hewan kurban, (Al-Baqarah:196).

Kafarat bagi yang membunuh seseorang yang berada dalam perjanjian karena kesalahan atau tidak sengaja, (An-Nisaa’:92). Kafarat bagi yang melanggar sumpah, (Al-Maaidah:89). Kafarat bagi yang membunuh binatang buruan pada saat ihram, (Al-Maaidah:95). Dan kafarat zhihar, (Al-Mujaadilah:3-4)

Nabi saw. bersabda:

الصَّلَوَاتِ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, hari jumat dengan jumat yang lainnya dan antara Ramadhan dengan Ramadhan lainnya, adalah sebagai penebus dosa selama tidak berbuat dosa besar.” (Muslim)

Dalam hadits lain juga disebutkan, nabi saw. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisab (berharap ridha Allah) maka dosa-dosa yang lalu akan diampuni.

Demikian halnya shaum dan sedekah, keduanya berperan serta dalam penebus pelanggaran dosa seseorang, baik di dalam keluarga, harta, atau tetangga. Dari Hudzaifah bin Yaman ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.:

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ

“Fitnah (ujian) seseorang dalam keluarga (istri), harta, anak, dan tetangganya dapat ditutupi dengan shalat, puasa, dan sedekah.” (Bukhari dan Muslim)

8. Ar-Rayyan Disediakan Bagi Orang yang Puasa

Nabi saw. bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyan. Dari pintu ter-sebut orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat nanti dan tidak seorang pun yang masuk ke pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa. Dikatakan kepa¬da mereka: “Di mana orang-orang yang berpuasa?”. Maka mereka pun masuk melaluinya. Dan apabila orang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu tersebut ditut¬up sehingga tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk, maka ia akan minum minuman surga. Dan barangsiapa yang minum minuman surga, maka ia tidak akan haus selamanya.” (Bukhari dan Muslim)

Demikianlah hakikat ibadah puasa Ramadhan yang selayaknya dapat mem¬berikan kebahagiaan bagi pelakunya; baik kebahagiaan batin, kebahagiaan fisik dan kebahagiaan pikiran. Karena secara garis besar tujuan dari ibadah shaum adalah membersihkan jiwa dari kekerdilan diri, menahan nafsu hewani, dan menjaga kesehatan jasmani. Allahu a’lam. (al-ikhwan.net)

Puasa Itu Ibadah Klasik

puasa ramadhan
PUASA (shaum) merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan Allah SWT bagi orang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum Nabi Muhammad Saw.

Puasa merupakan amal ibadah klasik karena telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu.

Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu:

1. Puasanya orang-orang sufi, yakni praktik puasa setiap hari untuk meraih pahala, misalnya puasanya para pendeta

2. Puasa bicara, yakni praktik puasa kaum Yahudi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, “Jika kamu (Maryam) melihat seorang manusia, maka katakanlah, sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini" (QS. Maryam :26).

3. Puasa dari seluruh atau sebagian perbuatan (bertapa), seperti puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama Budha dan sebagian Yahudi serta puasa kaum-kaum lainnya yang mempunyai cara dan kriteria yang telah ditentukan oleh masing-masing kaum tersebut.

4. Puasa dalam Islam yang tidak terlalu ketat sehingga tidak memberatkan kaum muslimin, juga tidak terlalu longgar sehingga mengabaikan aspek kejiwaan.

Berbagai dokumen sejarah menegaskan puasa dilakukan manusia sejak dulu kala. Faktanya tersebut dalam relief-relief yang ditemukan di tempat-tempat ibadah Dinasti Fir’aun di Mesir serta di lembaran-lembaran papyrus. Orang-orang Mesir Kuno telah melaksanakan puasa, terutama pada masa terjadinya banyak fitnah dan peperangan, sebagaimana diajarkan oleh agama mereka.

Orang-orang Hindu dan Budha juga telah mengenal dan melaksanakan puasa sebagaimana diajarkan oleh kitab suci mereka. Orang-orang Yunani, Romawi, Persia, dan bangsa-bangsa kuno lainnya juga sudah mengenal puasa. Barangkali Hypocrate --hidup pada abad kelima sebelum Masehi-- dan dijuluki sebagai “Bapak Kedokteran” adalah orang yang pertama kali menulis tata cara berpuasa dan mengungkap manfaat medis puasa di kalangan bangsa Yunani kuno.

Pada zaman Bathalisah, para dokter Iskandariah menganjurkan pasien mereka supaya menjalani puasa untuk mengobati sekaligus mempercepat penyembuhan penyakit mereka.

Puasa juga sudah dikenal oleh agama-agama samawi terdahulu & diwajibkan kepada para pengikutnya. Orang-orang Yahudi & Nasrani sudah mengenalnya. Namun, tentu saja puasa yang dilaksanakan oleh umat-umat terdahulu berbeda pengertian dan tata caranya dari puasa yang ada dalam syariat Islam dan dilaksanakan oleh kaum Muslimin.

DEFINISI PUASA
Secara etimologi, puasa berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan.
"Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa demi Tuhan yang Maha Pemurah, bahwasanya aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini". (Q.S. Maryam:26).

Secara terminologi, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa.
Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut, dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenarnnya matahari dengan memakai niat tertentu.

HIKMAH PUASA
Diwajibkannya puasa atas umat Islam mempunyai hikmah yang dalam, utamanya sebagai perwujudan ketaatan dan menuju ketakwaan kepada Allah SWT.

"Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalian bertakwa" (QS. Al-Baqarah:183).

Kadar takwa tersebut terefleksi dalam tingkah laku, yakni melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan yang diistimewakan Allah dengan dengan menurunkan kenikmatan terbesar di dalamnya, yaitu Al-Qur'an, yang akan menunjukan manusia ke jalan yang lurus.

Ramadhan juga merupakan pengobat hati, rahmah bagi orang-orang yang beriman, dan sebagai pembersih hati serta penenang jiwa-raga.

Kewajiban puasa Ramadhan berlandaskan Al-Qur'an, Sunnah, dan Ijma’ Ulama. "Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Umar, bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: Islam berdiri atas lima pilar: kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, haji ke Baitullah (Makkah) dan berpuasa di bulan Ramadhan."

Kata al-haj (haji) didahulukan sebelum kata al-shaum (puasa) menunjukkan pelaksanakaan haji lebih banyak menuntut pengorbanan waktu dan harta.

Dalam riwayat lain, kata al-shaum didahulukan karena kewajiban puasa lebih merata (bisa dilaksanakan oleh mayoritas umat Islam) daripada haji.

Kewajiban puasa Ramadhan sangat terang. Barangsiapa yang mengingkari atau mengabaikan keberadaannya, maka dia termasuk orang kafir, kecuali mereka yang hidup pada zaman Islam masih baru atau orang yang hidup jauh dari ulama. Wallahu a’lam.*

Sumber: “Berobat dengan Puasa” (Tim Muntaza) & “Pilar-Pilar Islam dalam Al-Sunnah (Prof. Dr. Umar Hasyim/Pesantren Viertual)

Tujuh Pahala Puasa

Tujuh Pahala Puasa
Puasa (shaum) Ramadhan sungguh mengandung berkah yang tak terhingga. Puasa satu-satunya ibadah yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan diri sendiri. Puasa pun untuk Allah dan Dia langsung yang memberikan pahala atau kebaikan bagi orang yang berpuasa. Setidaknya ada tujuh pahala bagi orang berpuasa:

1.  PENEBUS DOSA:
“Shalat lima waktu, hari jumat dengan jumat yang lainnya dan antara Ramadhan dengan Ramadhan lainnya, adalah sebagai penebus dosa selama tidak berbuat dosa besar.” (HR. Muslim).

2.  PEMBERI SYAFAAT:
“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata: “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat di waktu siang, karenanya perkenankanlah aku untuk memberikan syafaat kepadanya”. Al-Qur’an berkata: “Saya telah melarangnya dari tidur di malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya. Beliau bersabda, ”Maka syafaat keduanya diperkenankan.” (HR. Ahmad).

3. DUA KEBAHAGIAAN:
"Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi di hari kiamat. Dan bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Rabbnya, ia gembira dengan puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. PAHALA BESAR:
“Abu Umamah Al-Bahili penah berkata: saya berkata: Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang Allah dapat memberikan manfaat kepadaku dengannya”. Maka Rasulullah saw. pun menjawab : “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)-nya.” (HR. Nasa’i).

5. JAUH DARI FITNAH:
“Fitnah (ujian) seseorang dalam keluarga (istri), harta, anak, dan tetangganya dapat ditutupi dengan shalat, puasa, dan sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

6. PERISAI DIRI:
“Puasa itu adalah perisai yang dapat melindungi diri seorang hamba dari api neraka.” (HR. Ahmad)

7.  PINTU KHUSUS KE SURGA:
“Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyan. Dari pintu tersebut orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat nanti dan tidak seorang pun yang masuk ke pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa. Dikatakan kepada mereka: “Di mana orang-orang yang berpuasa?”. Maka mereka pun masuk melaluinya.

Dan apabila orang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu tersebut ditutup sehingga tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk, maka ia akan minum minuman surga. Dan barangsiapa yang minum minuman surga, maka ia tidak akan haus selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam. (Risalah Ramadhan).*

Panduan Praktis I’tikaf

Panduan Praktis I’tikaf
Setiap Muslim tentu ingin bertemu dengan malam Lailatul Qodar. Menurut Sunah Rasul, “perburuan” malam itu bisa dilakukan mulai malam ke-21 hingga ke-29 Ramadhan. Metode perburuan yang dicontohkan Rasul adalah denga i’tikaf di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Definisi & Syarat I'tikaf

I'tikaf yaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu, dengan niat ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT. Hukumnya sunat. Rasulullah senantiasa beri'tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari (HR. Bukhori & Muslim).

Orang yang i'tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria Muslim, berakal, serta suci dari janabah (junub), haidh, dan nifas. Selain itu, i’tikaf harus diniatkan sejak awal. Oleh karena itu, i'tikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz, orang junub, serta wanita haidh dan nifas.

I'tikaf dimulai sebelum terbenam matahari malam ke-21 dan berakhir pada hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagian ulama mengatakan, lebih mustahab (disenangi) adalah menunggu sampai Shalat Id.

Adab I’tikaf
Memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT, seperti shalat, membaca Al-Quran, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat, do'a, dan sebagainya. Termasuk pengajian, ceramah, ta'lim, diskusi ilmiah, tela'ah buku tafsir, hadits, dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah.

Selama i’tikaf boleh keluar untuk mengantar istri; menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan; keluar untuk buang air besar dan kecil, juga makan dan minum (jika tidak ada yang mengantarkan), tapi harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluanya.

Boleh makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

I’tikaf batal jika meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar. Demikian pula jika haidh, nifas, dan berjima’.

I'tikaf bagi Wanita

Sebagaimana kaum pria, wanita (Muslimah) pun disunahkan beri'tikaf dengan syarat dan rukun tertentu. I'tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat utama:

Pertama, mendapat izin dan ridlo suami atau orangtua.

Kedua, tempat i'tikaf wanita yang lebih utama ialah tempat shalat di rumahnya. Jika di masjid, harus  terpisah dan tertutup dari dari tempat lelaki.

Ketiga, selama i'tikaf, wanita diharuskan suci dari hadast besar (untuk wanita harus dalam kondisi bersih dari haid dan nifas).

Keempat, bagi wanita yang sedang haid, ibadah yang seharusnya dilaksanakan adalah berzikir dengan memperbanyak membaca tasbih, tahmid, istigfar dan tahlil.

Ulama berbeda pendapat mengenai apakah boleh seorang wanita haid membaca Al-Qur'an. Sebagian besar ulama mengatakan, tidak boleh karena hadist yang diriwayatkan Ibnu Umar, Rasulullah Saw bersabda:  "Janganlah membaca al-Qur'an, seorang yang berhadast besar (junub) dan wanita haid" (HR. Tirmizi dan Baihaqi).

Namun hadits tersebut meskipun dipedebatkan kesahihannya oleh para ulama.

Ada juga riwayat Ali yang mengatkan "Suatu hari aku melihat Rasulullah berwudlu lalu membaca Al-Quran, lalu beliau berkata "Beginilah caranya bagi mereka yang bukan junub (berhadats besar), adapun mereka yang junub tidak boleh membaca Al-Qur'an meskipun satu ayat" (HR. Ahmad).

Dawud Al-Dhahiri mengatakan, orang junub boleh membaca Al-Qur'an. Pendapat ini juga berdasarkan adanya surat Nabi Saw yang dikirimkan kepada Heraklus yang di dalamnya tercantum ayat-ayat al-Qur'an. Jika membaca Al-Qur'an bagi orang junub dilarang, tentu Nabi Saw tidak megirimkan surat yang berisi ayat-ayat Al-Qur'an, karena Heraklus adalah orang Nasrani yang tentu tidak besih dari hadas besar.

Riwayat dari imam Syafi'e dan Imam Malik memperbolehkan seorang haid membaca Al-Qur'an bila takut lupa, atau memang pekerjaannya mengajarkan Al-Qur'an, atau mungkin seorang wanita yang sedang berargumentasi sehingga harus mengguakan Al-Qur'an sebagai dalil.

Demikian juga memperbolehkan membaca ayat-ayat pendek yang tujuannya untuk zikir, seperti membaca basmalah ketika hendak makan dan minum, dan membaca hamdalah ketika selesai dan lain-lain. Wallahu a'lam.*

Tidak Benar Bahwa Tidur Orang Berpuasa Adalah Ibadah

Tidur Orang Berpuasa
Hadits tentang “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” merupakan hadits yang tidak benar. Hadits ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdullah bin Abi Aufa radhiallahu ‘anhu. Hadits ini juga disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, 1:242. Teks haditsnya,

نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف

Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.”

Dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang bernama Ma’ruf bin Hassan dan Sulaiman bin Amr An-Nakha’i. Setelah membawakan hadits di atas, Al-Baihaqi memberikan komentar, “Ma’ruf bin Hassan itu dhaif, sementara Sulaiman bin Amr lebih dhaif dari dia.”

Dalam Takhrij Ihya’ Ulumuddin, 1:310, Imam Al-Iraqi mengatakan, “Sulaiman An-Nakha’i termasuk salah satu pendusta.”

Hadits ini juga dinilai dhaif oleh Imam Al-Munawi dalam kitabnya, Faidhul Qadir Syarh Jami’us Shaghir. Sementara, Al-Albani mengelompokkannya dalam kumpulan hadits dhaif (Silsilah Adh-Dhaifah), no. 4696.

Oleh karena itu, wajib bagi seluruh kaum muslimin, terutama para khatib, untuk memastikan kesahihan hadis, sebelum menisbahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita kita boleh mengklaim suatu hadits sebagai sabda beliau, sementara beliau tidak pernah menyabdakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperingatkan,

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama kalian. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Allahu a’lam.*

Disadur dari Fatwa Islam (http://www.islam-qa.com/ar/ref/106528) oleh Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Munajid. Sumber: KonsultasiSyariah.com